top of page

Wasit Hindia di Olimpiade

Hindia Belanda nyaris mengirimkan tim sepakbola di Olimpiade tapi gagal karena penolakan Belanda. Sebagai pelipur lara, wasit Hindia Belanda tampil dalam beberapa pertandingan, termasuk final sepakbola di Olimpiade.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi wasit Max Foltynski. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

13 Des 2025
14 menit membaca

Diperbarui: 13 Jun

RABU malam, 13 Juni 1928. Stadion Olimpiade di Amsterdam, Belanda, dipenuhi ribuan penonton. Mereka antusias untuk menyaksikan final ulangan cabang sepakbola Olimpiade yang mempertemukan dua kekuatan besar Amerika Selatan: Uruguay dan Argentina. Di tepi garis lapangan, berdiri seorang hakim garis dari negeri jauh di timur. Sosoknya mungkin tidak dikenal oleh publik Belanda. Namun, kehadirannya menjadi kebanggaan tersendiri bagi sepakbola Hindia Belanda. Dia adalah Max Foltynski.


Foltynski tak sendirian. Di sisi lapangan lainnya terdapat H. Maeck dari Belgia. Sementara yang memimpin pertandingan adalah J. Mutters dari Belanda.


Begitu peluit berbunyi, Uruguay langsung menekan. Kemelut terjadi di depan gawang Argentina. Penonton menahan napas. Permainan berkembang cepat. Bola bergerak dari sisi ke sisi. Dua tendangan sudut berganti diambil dan sorak seru protes terdengar bersahutan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Foltynski selalu sigap. Benderanya terangkat setiap kali garis offside terlewati. Keputusannya tegas tanpa gentar di bawah tatapan ribuan pasang mata.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page