top of page

Bergaya Lewat Karung

Depresi Besar dan Perang Dunia II membuat masyarakat AS mendaur ulang karung untuk dijadikan pakaian. Menjadi tren dan diminati hingga memunculkan karung beraneka warna, motif, dan ukuran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Gaun dari karung karya Dorothy Overall untuk kontes menjahit karung yang diselenggarakan pada 1959. (Smithsonian National American History Museum/Wikimedia Commons).

4 Nov 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 7 Jan

DEPRESI Besar yang melanda Amerika Serikat pada 1930-an mengubah banyak aspek dalam kehidupan masyarakat di Negeri Paman Sam. Lemahnya daya beli imbas krisis ekonomi membuat mereka harus memutar otak untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya mencari alternatif untuk kebutuhan pangan, para penduduk khususnya yang berada di kawasan perdesaan miskin juga mulai membuat pakaian dari berbagai karung bekas pakan hewan tepung, gula, maupun biji-bijian.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page