- 6 Mei 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 19 Mei
PENGUNJUNG pasar Tanah Abang membludak hingga 100 ribu orang menjelang Lebaran. Mereka datang untuk berburu pakaian baru. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta masyarakat agar tetap merayakan Lebaran dengan membeli pakaian baru. Tujuannya menggerakkan ekonomi masyarakat yang mandeg akibat pandemi Covid-19.
Dalam masa susah, pakaian baru tetap menjadi buruan orang dan sesuatu yang harus ada dalam kehidupan mereka. Selain untuk menyambut hari-hari besar, pakaian baru juga ditujukan untuk bergaya, membedakan identitas satu kelompok dengan kelompok lainnya, dan cara beradaptasi terhadap situasi sulit itu sendiri.
Ini misalnya terjadi di kalangan masyarakat Eropa pada masa resesi ekonomi di Hindia Belanda pada 1930-an. “Penampilan dan pakaian sebagai sarana pembedaan atau diskriminasi manusia,” kata Agung Wibowo, penulis buku Bergaya di Masa Sulit: Gaya Hidup Masyarakat Eropa di Batavia Masa Depresi Ekonomi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















