top of page

Menelusuri Tradisi Beli Pakaian Baru Jelang Lebaran

Perbedaan pejabat dan rakyat dalam membeli pakaian baru. Tradisi lama orang Indonesia dalam menyambut Lebaran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Warga berbelanja pakaian baru jelang Lebaran di Tanah Abang tahun 1951. (ANRI).

29 Apr 2021
4 menit membaca

Diperbarui: 7 Mar

PEMERINTAH melarang tradisi mudik Lebaran pada 2021. Tujuannya menekan penyebaran Covid-19. Tapi pemerintah mengimbau masyarakat tetap meneruskan tradisi lain menjelang Lebaran: beli pakaian baru. “Ada bagusnya Lebaran kita tetap menggunakan baju baru sehingga muncul aktivitas ekonomi,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 22 April 2021.


Tradisi membeli pakaian baru jelang Lebaran dan memakainya sewaktu Lebaran telah berjejak cukup lama di Indonesia. Snouck Hurgronje, penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial, mencatat kebiasaan ini pada awal abad ke-20.


“Dimana-mana perayaan pesta ini disertai hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan,” tulis Snouck dalam suratnya kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri, 20 April 1904, yang termuat dalam Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889–1939 Jilid IV.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page