top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Bung Karno yang Kesepian

Bercengkerama dengan rakyat menjadi kesenangan Sukarno sejak muda. Tak bisa lagi dilakukannya sejak ada Tjakrabirawa.

Oleh :
Historia
10 Jul 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sukarno dan Ho Chi Minh di Istana Cipanas. (gdtd.com.vn).

  • 11 Jul 2020
  • 3 menit membaca

Ketika mengikuti delegasi Suratkabar HarianRakyat ke Vietnam pada 1964, Mendiang Amarzan Lubis, redaktur budaya harian itu, ikut menemui pemimpin Vietnam Ho Chi Minh. Delegasi bertemu Paman Ho di tempat tinggalnya, sebuah rumah kecil di kompleks Istana Kepresidenan Vietnam. Rumah itu terletak di belakang istana.


“Antara rumah itu dengan istana ada tali yang direntangkan. Paman Ho harus meloncati tali itu setiap kali ke istana. Itulah caranya melatih fisiknya, kata Amarzan kepada Historia beberapa tahun silam.


Dalam kesempatan itu, Paman Ho tak lupa menanyakan kabar Bung Karno. Namun begitu mendapat jawaban Bung Karno secara umum sehat, Paman Ho bertanya lebih jauh apakah mereka sudah lama tidak bertemu dengan presidennya alias tidak setiap saat bisa menghadapnya.


“Kalau di sini, Paman Ho bisa ditemui kapan pun oleh wartawan,” kata Paman Ho, dikutip Amarzan.   


Sukarno memang tak lagi leluasa bergerak menemui sembarang orang sejak dibentuknya Tjakrabirawa. Meski dirinya sempat menolak, pendirian pasukan pengawal presiden yang digagas KSAD Jenderal Nasution itu tetap dilanjutkan karena pengamanan lebih kepada presiden menjadi keniscayaan mengingat beberapa upaya percobaan pembunuhan dilakukan terhadap Sukarno.


Dengan sendirinya Sukarno harus merelakan “kemerdekaannya” sedikit dikurangi. “Biasanya dulu aku bisa keluar istana dengan diam-diam, kadang-kadang seorang diri. Semenjak berdirinya Cakrabirawa ini tak mungkin lagi kulakukan,” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.  


Sejak menempati Istana pada 1950 hingga sebelum Tjakrabirawa, 1962, Sukarno kerap melakukan hobinya “turba” keliling kota hanya dengan seorang ajudan berpakaian preman yang mengawal. “Kami pergi dengan mobil kecil tanpa tanda pengenal. Kalau hari sudah malam aku menukar pakaian, pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas aku hanya memakai kemeja. Dan dengan kacamata berbingkai tanduk rupaku lain samasekali. Aku dapat berkeliaran tanpa dikenal orang dan memang kulakukan. Ini kulakukan karena ingin melihat kehidupan ini. Aku adalah kepunyaan rakyat, aku harus melihat rakyat, aku harus mendengarkan rakyat dan bersentuhan dengan mereka,” sambungnya.


Berbeda-beda jalan dilaluinya, berbagai sudut kota didatanginya, bermacam orang ditemui Sukarno dalam “turba”-nya. Obrolan, perdebatan, guyonan, rayuan orang yang sedang bermesraan, dan semua dinamika kehidupan rakyat menjadi “santapan rohani” Sukarno dalam turba itu. Sukarno kadang mengajak komunikasi orang-orang yang ditemuinya. Namun itu jarang dilakukannya karena khawatir suaranya dikenal orang.


Suara “singa podium” memang familiar di telinga rakyat. Suara itulah yang pernah membuat “penyamarannya” ketahuan. Terbongkarnya penyamaran itu bermula dari ketika Sukarno menanyakan seorang kuli yang sedang mengangkat batu bata. Suara Sukarno itu terdengar oleh seorang perempuan yang tak jauh darinya. Karena kaget mengetahui ada presiden di tengah kampungnya, perempuan itu segera berteriak mengumumkan bahwa Bung Karno ada di situ. Orang-orang pun berduyun-duyun datang sehingga pengawal terpaksa melarikan presiden ke dalam mobil untuk kemudian meninggalkan kerumunan.


Selain meminimalisir komunikasi, untuk menghilangkan kecurigaan orang dalam penyamarannya, Sukarno melakukannya dengan meniru kebiasaan yang ada pada rakyat. Ketika lapar, dia akan langsung menuju pedagang kaki lima yang diinginkan dan makan sebagaimana pembeli lain makan.


“Ada kalanya aku membeli sate di pinggir jalan. Kududuk seorang diri di pinggir trotoar dan menikmati jajanku dari bungkus daun pisang. Sungguh saat-saat yang menyenangkan,” kata Sukarno.


Saat-saat menyenangkan itu tak bisa lagi dilakukan Sukarno ketika Tjakrabirawa sudah mengelilinginya 24 jam dalam tiap harinya. Praktis “nyantai” hanya dilakukan Sukarno di lingkungan Istana entah dengan menteri-menterinya yang dia panggil ikut sarapan bareng atau dengan para pegawai Istana yang tinggal di kompleks Istana. Ketidakbisaan berada di tengah rakyat itu amat menyiksa batinnya.


“Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti pengasingan yang terpencil. Seringkali aku duduk-duduk seorang diri di beranda Istana Merdeka. Merenung. Dan memandang keluar ke taman indah yang menghilangkan kelelahan pikiran, taman yang kutanami dengan tanganku sendiri. Dan batinku merasa sangat sepi. Aku merasa terpisah dari jelata. Aku ingin bercampur dengan rakyat. Itulah yang menjadi kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku,” ujarnya.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page