- 11 Jun 2025
- 5 menit membaca
SUATU kali, Kolonel Alex Evert Kawilarang dengan seragam dan tanda pangkat militernya muncul di hadapan anggota Batalyon XVII pimpinan Kapten Abdullah, dikenal sebagai Batalyon Abdullah. Alih-alih mendapatkan hormat dari para prajurit mengingat dirinya salah satu pejabat penting militer Republik Indonesia, Alex justru seperti diacuhkan. Alex tentu mafhum. Abdullah alias Dullah dan pasukannya adalah tentara yang lahir karena revolusi, bukan karena sekolah militer.
Dullah dan pasukannya terkesan anti-formalitas ala militer. Dullah sendiri hanya rakyat biasa dengan tradisi-budayanya yang merakyat. Sikap merakyatnya makin menjadi-jadi setelah revolusi kemerdekaan Indonesia pecah, bahkan ketika dirinya sudah menjadi tentara.
Pamor Abdullah meroket cepat di ketentaraan pada 1945. Dalam waktu singkat dia jadi kapten dan kemudian menjadi mayor. Namun, pangkatnya tidak membuatnya terlihat lebih tinggi di dalam pasukannya. Sebagai orang yang bukan priayi, dia tak “aji mumpung” menjadi priyayi baru di masa revolusi itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.




.jpg)













