top of page

Cara Orba Kuasai Berita

Banyak cara dilakukan Orde Baru untuk mengekang kebebasan pers, mulai telepon intimidatif hingga beredel. Tapi, perlawanan insan pers tak pernah mati.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Nezar Patria (kedua dari kiri) mengemukakan pendapat dalam acara Diskusi dan Ngopi Bareng Historia: Dari Breidel sampai Hoax, Mengenang Masa Kelam Kebebasan Pers Era Soeharto di Jakarta, Rabu 24 Mei 2017. Foto: Nugroho Sejati

24 Mei 2017
2 menit membaca

Reformasi telah bergulir 19 tahun. Keran demokratisasi terbuka lebar, kebebasan pers mengalir deras. Media bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kebebasan mengemukakan pendapat kini dijamin oleh pemerintah. Tetapi, masih ada sebagian kalangan yang merindukan masa-masa rezim Soeharto berkuasa. Slogan “enak jamanku, tho?” belakangan menyeruak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page