top of page

Cerita Orang Biasa dalam Perang Kemerdekaan

Kisah pejuang di garis depan acap kali terlupakan dalam sejarah. Mereka ikut ambil bagian perjuangan mempertahankan kemerdekaan tanpa ingin dikenang sebagai pahlawan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rakyat jawa Barat yang hijrah di hadapan inspeksi tentara Belanda. Sumber: Nationaal Archief.

28 Mei 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 22 Jul

PERANG Kemerdekaan Indonesia bukan hanya cerita tentang komandan di medan tempur. Ia juga seyogianya tak melulu membicarakan tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam buku sejarah. Justru yang sering terluput adalah orang-orang biasa, anak buah komandan di palagan atau pendukung para pemimpin perjuangan, yang mau mengorbankan apa yang mereka punya, bahkan nyawa sekalipun. 


“Mereka berjuang tanpa memikirkan masalah apa mereka dikenang atau tidak. Tentu saja mereka jumlahnya sangat banyak, jutaan orang mungkin, yang ikut berjuang tahun 1945—1949. Dan sebagian dari mereka saya temui ketika pertama kali menjadi jurnalis tahun 1999,” tutur jurnalis sejarah Hendi Johari dalam diskusi bukunya Orang-orang di Garis Depan oleh komunitas Temu Sejarah secara daring (23/05). 


Kisah Dasuki, misalnya, mantan pimpinan gerilyawan Indonesia di Sukabumi. Semasa perang, Dasuki bertempur menghadapi sepasukan tentara Sekutu yang pernah mengalahkan Jepang di Birma. Setengah abad berselang, Dasuki tua menjalani nasib sebagai penjual mainan anak-anak di sekolah SD dekat jalan Pelabuhan Ratu. Anak-anak bocah kerap mengerumuni Dasuki yang terampil membuat mainan bebek-bebekan dari kayu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page