top of page

Kisah Warung Siluman

Di tengah Peristiwa Bandung Lautan Api, kedai-kedai makanan bermunculan di pinggiran kota tersebut. Logistik pun mengalir tak berbatas untuk para pejuang dan pengungsi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rakyat Bandung mengungsi ke luar kota. Foto:IPPHOS

24 Mar 2018
2 menit membaca

BANDUNG 1946. Di hari ke-24 bulan Maret, secara perlahan namun pasti api mulai melahap seluruh area kota tersebut. Namun pada beberapa titik, sekelompok pejuang masih sibuk membakar rumah-rumah dengan menggunakan dinamit lokal yang sumbunya harus disulut secara langsung.


“Bayangkan di tengah hujan gerimis, kami harus melakukannya satu persatu: betapa melelahkannya…”kenang Aleh (93), eks pejuang Bandung.


Dalam keadaan gelap dan hujan tiada henti, Aleh dan kawan-kawan merasakan waktu berjalan sangat lama. Tetiba pukul 20.00 terdengar ledakan yang sangat keras dari arah timur: tanda perintah untuk membakar Bandung lebih dipercepat lagi.


“Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan granat dan Molotov saja supaya lekas selesai…” ujar Aleh kepada Historia.


Ledakan dasyat pun terdengar di seantero Bandung. Keadaan kota marak oleh cahaya api, yang memanjang dari arah barat hingga timur. Gumpalan asap putih yang bersanding dengan kepulan debu-debu berwarna hitam membumbung ke angkasa. Jalan yang semula gelap menjadi terang. Dan nampaklah iringan-iringan pengungsi bergerak menuju selatan Bandung.


“Sulit untuk dilukiskan perasaan kami saat itu, melihat tumpah darah kami menjadi lautan api. Rasanya pasti sedih…” ungkap Karman Somawidjaja dalam Hari Juang Siliwangi.


Rasa lelah yang mendera, menjadikan perut mereka keroncongan. Namun sama sekali tak ada makanan yang mereka bawa. Sementara untuk meminta kepada para pengungsi mereka pun merasa tak tega.


Beruntung rasa lapar itu tak berlangsung lama. Begitu para pejuang dan pengungsi memasuki pinggiran Bandung, mereka menemukan warung-warung yang ternyata menyediakan makanan selama 24 jam.


“Warung-warung yang malam buta pun tetap beroperasi itu kami sebut sebagai “warung siluman”,” kenang Mohamad Rivai dalam biografinya, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.


Munculnya “warung-warung siluman” itu adalah murni atas inisiatif rakyat di pinggiran kota Bandung. Awalnya mereka membangun dapur umum di setiap desa, tetapi karena dapur umum tersebut tidak mencukupi untuk menampung para pejuang dan pengungsi, maka rakyat pun membuat sejenis warung darurat secara mandiri.


Penyediaan bahan mentahnya pun dilakukan secara swadaya: memanfaatkan hasil kebun dan peternakan pribadi. Petugas-petugas warung tersebut terdiri dari para lelaki dan perempuan. Merekalah yang menyelenggarakan kebutuhan logistik para tamunya dari Bandung. “Tak ada yang mau dibayar, semua mereka berikan secara gratis dan ikhlas…” kenang Aleh.


Menurut Haji Rusdi, salah satu koordinator warung-warung siluman itu, jumlah pos-pos logitsik tersebut mendekati jumlah ribuan. Di kawasan Cibaduyut saja, kata Haji Rusdi, jumlah warung siluman mencapai angka seratus lebih.


“Sepanjang jalan Ciparay-Majalaya, saat itu dipenuhi warung-warung siluman yang diperkuat oleh ratusan pengelolanya…” ujar Haji Rusdi kepada surat kabar Minggu Buana edisi 18 Juli 1983.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
transparant.png
bottom of page