top of page

Dari Diskriminasi ke Apresiasi

Pemerintah kolonial Belanda memandang orang Arab sebagai ancaman. Dilarang membaur dengan bumiputra, gerak mereka dibatasi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kapiten Arab Said Achmad bin Abdoellah Bobsaid bertemu dengan Residen Surabaya W.P. Hillen di Tanjung Perak, Surabaya, 1924. (KITLV).

  • 9 Sep 2024
  • 8 menit membaca

Diperbarui: 3 Des 2025

ALI Shahabudin, 65 tahun, sudah tiga jam berbicara. Namun, dia belum menunjukkan tanda kelelahan. Mulut dan hidung lancipnya mengeluarkan asap rokok. Asbak di atas meja tak cukup lagi menampung puntung dan abu rokok. Sementara kopinya tandas, tinggal ampas. “Saya masih punya banyak cerita tentang peranakan Arab,” ujarnya kepada Historia.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page