- 1 Mei 2013
- 2 menit membaca
Diperbarui: 19 Des 2025
SELAMA Perang Dunia II, penduduk laki-laki Amerika Serikat pergi ke medan perang. Sedangkan para perempuan bekerja di pabrik-pabrik, seperti pabrik galangan kapal, pabik baja, dan pabrik keretaapi. Mereka mengerjakan apa yang secara tradisional –sampai saat itu– dianggap sebagai "pekerjaan laki-laki."
Sebagai bentuk perhatian terhadap buruh perempuan, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat membentuk Biro Perempuan pada 1920. Biro ini bertugas merumuskan "standar dan kebijakan yang akan mempromosikan kesejahteraan upah-produktif perempuan, memperbaiki kondisi kerja, meningkatkan efisiensi, dan memperbesar peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang produktif."
Biro ini juga punya wewenang untuk menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan perempuan dalam industri dan melaporkan temuannya kepada Departemen Tenaga Kerja.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.





![Habib Usman bin Yahya, Mufti Batavia, Agustus 1912. (Nico J.G. Kaptein, Arnoud Vrolijk, dan Liesbeth Ouwehand dalam Sayyid 'Uthman of Batavia [1822- 1914] A Life in the Service of Islam and the Colonial Administration).](https://static.wixstatic.com/media/61a794_eba1e7d3cdbf42ba942e0723a73d0100~mv2.jpg/v1/fill/w_889,h_500,al_c,q_85,enc_avif,quality_auto/61a794_eba1e7d3cdbf42ba942e0723a73d0100~mv2.jpg)












