- Martin Sitompul

- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca
KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena pertunjukan komedi tunggalnya bertajuk “Mens Rea” dianggap menghasut dan menodai agama. Dalam penampilan itu, Pandji tak sekadar berkomedi, tapi juga melempar kritik sosial kepada penyelenggara negara seperti Polri dan TNI, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan secara umum pemerintahan Prabowo Subianto.
Salah satu sentilannya yang menuai sorotan menyebut Wapres Gibran mengantuk karena matanya sayu. Cara Pandji dalam berkomedi pun menuai pro dan kontra. Ada yang mengatakan komedi Pandji mengarah ke penghinaan secara fisik, pencemaran nama baik, dan sebagainya. Bagi yang membelanya, materi itu sebagai ekspresi kritik sosial dengan bumbu komedi.
Komedi bertujuan untuk menghibur penonton. Ia bisa juga menjadi alat kritik sosial. Namun, komedi terkadang menimbulkan masalah bagi komedian. Entah karena silap lidah atau memang blunder yang disengaja. Hal ini pernah terjadi kepada pelawak Jojon di masa Orde Baru.
“Pelawak Jojon juga pernah silap saat melucui gambar di lembar uang kertas dengan perumpamaan yang terkesan merendahkan martabat. Buntutnya Jojon lama tidak muncul melawak di televisi,” demikian diberitakan Analisa, 16 Maret 1997.
Jojon yang bernama lengkap Djuhri Masdjan adalah salah satu pentolan Jayakarta Grup. Kelompok lawak ini beranggotakan Cahyono, Jojon, Suprapto alias Ester, dan Uuk. Sebagai maskot Jayakarta Grup, Jojon dikenal dengan banyolannya yang kocak dibalut aksi culun dan lugu. Selain itu, penampilannya dalam berkomedi juga terbilang nyentrik. Jojon selalu mengenakan kumis tengah menyerupai Charlie Chaplin serta celana kodok yang dipakai ketinggian. Gaya busana Jojon ini melahirkan jenama fesyen “celana Jojon” yang populer pada dekade 1990-an.
Hari nahas bagi Jojon datang ketika grupnya tampil di salah satu televisi swasta pada 1994. Dalam sebuah sketsa komedi, Jojon terlibat tebak-tebakan dengan tandemnya, Suprapto. Bermula dari pertanyaan Suprapto tentang gambar-gambar pada pecahan uang kertas rupiah.
“Uang 500 gambar apa?” tanya Jojon.
“Monyet,” kata Jojon.
Uang kertas pecahan 500 rupiah saat itu bergambar orang utan sebagai kampanye satwa nasional yang dilindungi. Ikon orang utan dalam uang 500 emisi tahun 1992 beredar hingga 1999.
“Kalau uang 50.000?” Suprapto melempar umpan lagi.
Jojon yang terdesak nyeletuk, “bapaknya monyet.”
Punchline dari Jojon begitu berani dan mengejutkan. Uang pecahan 50.000 itu bergambar Presiden Soeharto yang baru saja dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan. Apalagi Grup Jayakarta tampil rutin dalam program komedi di stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) milik Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto.
Pentas pun dihentikan. Para personel Jayakarta saling menyalahkan satu sama lain. Akibatnya lebih fatal bagi Jojon.
Lelucon Jojon memang tak sampai membuatnya kena cekal atau diseret ke dalam tahanan. Namun, menurut Adi Jojon, anak sulung Jojon, kejadian itu membuat Jojon kehilangan “periuk nasi” untuk sementara waktu. Tak ada stasiun televisi yang mau mengundang Jojon untuk manggung.
“Akhirnya sempat dirumahkan. Sempat tidak ada show kemana-mana,” tutur Adi dalam siniar Humoria Indonesia berjudul “Kesaksian Putra Jojon tentang 500 Monyet dan Soeharto”.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah tawaran melawak sepi, Jojon tak lagi menjadi bagian dari Jayakarta Grup. Menurut Cahyono, keluarnya Jojon karena perbedaan prinsip di antara mereka, khususnya dalam soal keuangan. Posisi Jojon pun digantikan oleh orang lain.
“Ya, sejak kasus itu mencuat di media massa, kami sudah positif tidak menggunakan Jojon, jadi Jojon bukan anggota Jayakarta lagi,” kata Cahyono dalam Bali Post, 14 April 1996.
Masa karantina Jojon baru berakhir pada 2003. Setelah rezim berganti, Jojon kembali melawak. Tak lagi bersama Jayakarta, Jojon bersolo karier sebagai pelawak tunggal.
Jojon tentu belajar dari pengalaman sebelumnya untuk lebih hati-hati dalam melempar guyonan. Dengan ciri khasnya yang tak lekang, ia perlahan-lahan eksis lagi di panggung hiburan.
Tak hanya di pentas lawak, Jojon mulai merambah ke dunia film dan serial televisi. Ia juga langganan mengisi acara televisi untuk program komedi. Pada 2006, Jojon memenangkan nominasi SCTV Award untuk kategori Lifetime Achievement Award (Penghargaan Prestasi Seumur Hidup). Hingga akhir hayatnya, Jojon terus berkiprah sebagai komedian, menjadikannya sebagai salah satu pelawak legendaris Indonesia. Jojon wafat pada 6 Maret 2014 dalam usia 66 tahun.*













Komentar