top of page

Lelucon Jojon Tepi Jurang

Selain untuk menghibur, komedi bisa menjadi kritik sosial. Namun, komedi bisa menimbulkan masalah bagi komedian, seperti yang terjadi pada Jojon.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pelawak Jojon (1947-2014). (Wikipedia).

16 Jan
3 menit membaca

Diperbarui: 7 Mar

KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena pertunjukan komedi tunggalnya bertajuk “Mens Rea” dianggap menghasut dan menodai agama. Dalam penampilan itu, Pandji tak sekadar berkomedi, tapi juga melempar kritik sosial kepada penyelenggara negara seperti Polri dan TNI, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan secara umum pemerintahan Prabowo Subianto. 


Salah satu sentilannya yang menuai sorotan menyebut Wapres Gibran mengantuk karena matanya sayu. Cara Pandji dalam berkomedi pun menuai pro dan kontra. Ada yang mengatakan komedi Pandji mengarah ke penghinaan secara fisik, pencemaran nama baik, dan sebagainya. Bagi yang membelanya, materi itu sebagai ekspresi kritik sosial dengan bumbu komedi. 


Komedi bertujuan untuk menghibur penonton. Ia bisa juga menjadi alat kritik sosial. Namun, komedi terkadang menimbulkan masalah bagi komedian. Entah karena silap lidah atau memang blunder yang disengaja. Hal ini pernah terjadi kepada pelawak Jojon di masa Orde Baru. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page