Diperbarui: 27 Sep
LAWAK hanyalah kesenian kelas jongos. Orang-orang rendahan. Rakyat jelata. Metafora kelas itu digambarkan dalam pertunjukan Goro-goro, Limbuk-Cangik, dan Togog-Bilung di wayang kulit. Di kesenian tradisional lain seperti ketoprak atau ludruk, suasana penuh guyon juga hanya muncul ketika para abdi, pembantu, dayang-dayang berkumpul dan bercengkerama. Ungkapan mereka lewat bahasa egaliter, kadang kasar, menyentil, dan apa adanya menggambarkan tradisi sekaligus cap bagi posisi mereka.
Tradisi melawak, geguyonan, berlelucon, bebodoran, selengekan, cengengesan hanya pantas dilakukan orang-orang dari kelas sosial tersebut. Orang-orang dari kelas sosial menengah atau tinggi harus serius atau tampak serius; karena itulah makna wibawa sebenarnya. Dalam cengkeraman feodalisme itulah tradisi lawak merangkak, tertatih-tatih, dan tumbuh. Dalam cibiran dan kerlingan sebelah mata “kaum terpelajar” pada masanya eksistensi lawak dianggap dan dinilai. Sangat berbeda dari seni lukis, seni sastra, dan seni suara. Kontras, bak bumi dan langit.
Tak sulit menemukan nama Raden Saleh, Soedjojono, Affandi, atau Hendra Gunawan ketika orang menelusuri masa lalu seni lukis. Para seniman sendiri memiliki tradisi diskusi dan berliterasi, sehingga jejak-jejak sejarah semakin otentik. Para pengkaji juga aktif memberi warna dan peta. Seni sastra, lebih-lebih lagi. Sejak kelas satu SMP, kita “dipaksa” mengerti apa itu puisi, prosa, sajak, pantun, Poedjangga Baroe, Angkatan 45, hingga Chairil Anwar. Seni suara? Sejak TK bahkan anak-anak mengisi waktu dengan bermain dan bernyanyi. Sebuah anugerah yang melimpah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















