top of page

CIA dan Lembaga Humor Indonesia

Perhatiannya pada humor mendorongnya mendirikan lembaga humor. Dituduh agen CIA karena bekerja di badan penerangan Amerika Serikat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tanda perpustakaan USIS di Jakarta. (diplomacy.state.gov).

20 Des 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Mei

ARWAH Setiawan bukan pelawak tapi menaruh minat besar pada humor. Dia menyampaikan gagasannya lewat tulisan di berbagai media massa dan ceramah. Bahkan, dia memprakarsai sebuah wadah untuk mengembangkan humor. Wadah itu, Lembaga Humor Indonesia (LHI), berdiri pada 29 November 1978.


Arwah bersama para pengurusnya, antara lain Kris Biantoro, S. Bagyo, G.M. Sidharta, dan Bambang Utomo, menghadap Wakil Presiden Adam Malik. “Tak jelas benar, apakah dalam acara berbincang-bincang itu muncul hal-hal lucu,” sebut buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982.


“Belum jauh melangkah,” lanjut buku itu, “Arwah menerima ‘gelitikan’ pertama dari kalangan pelawak. Dia dituduh agen CIA, dinas mata-mata Amerika yang tersohor itu.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page