- 3 Jun 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
KETIKA berpatroli dengan mendaki sebuah pegunungan di Jawa Tengah, serdadu Belanda dari kesatuan 4-6 Resimen Infanteri bertemu dengan lima orang berpakaian hitam. Sang komandan yang berpangkat mayor meminta senjata kepada Harrie Krol, prajurit penembak bren, dan kemudian terdengar: “tar-tar-tar…” Kelima orang Indonesia itu tewas tanpa melawan.
Tak jauh dari situ, mereka bertemu lagi dengan dua orang berpakaian hitam. Sang mayor menebas kepala mereka dengan kelewang. Masih jelas terbayang dalam benak Harrie Krol bagaimana kepala-kepala itu menggelinding dan darah muncrat.
“Yang terjadi hanyalah balas dendam. Mayor itu sangat marah karena dia menemukan dua anak buahnya tewas tanpa alat kelamin,” kata Harrie Krol dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950 karya Gert Oostindie.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















