top of page

Depresi Besar dan Kegilaan Menari di Amerika

Dansa maraton menjadi salah satu hiburan populer penduduk Amerika di masa Depresi Besar. Para peserta menari berpasangan hingga berbulan-bulan demi mendapatkan hadiah uang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tiga pasangan ikut serta dalam dansa Maraton pada 1923 . (National Photo Company/Wikimedia Commons).

6 Nov 2024
5 menit membaca

Diperbarui: 7 Jan

MALAM telah larut tetapi suasana di dalam sebuah arena di salah satu wilayah Amerika Serikat itu masih saja ramai dengan teriakan para penonton yang tengah menyaksikan dansa maraton, sebuah kompetisi berhadiah uang yang sangat digemari oleh penduduk Negeri Paman Sam di masa Depresi Besar. Sorak-sorai para penonton yang memberi dukungan kepada para kontestan yang telah menari selama berhari-hari beradu dengan iringan musik dari fonograf di sudut arena. Keriuhan ini seakan memberi gambaran lain dari Depresi Besar yang menghancurkan ekonomi AS di tahun 1930-an. Dansa maraton tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga peluang untuk bertahan hidup di tengah krisis yang tak menentu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page