- 22 Nov 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 20 Apr
BUTUH waktu tiga hari naik kapal untuk mencapai Digoel dari Merauke. Nyamuk malaria atau keganasan buaya di Sungai Digoel dan bermacam gangguan alam lain akan selalu menjadi ancaman begitu sampai. Belum lagi, di tahun 1927 hinga 1940 itu, kesunyian Digoel yang terletak di pedalaman belantara Papua tak kalah menakutkan.
Di sanalah mereka yang terkait Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) November 1926 dan Januari 1927 ditempatkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Atas nama Rust en Orde (Keamanan dan Ketertiban), mereka dikucilkan agar tak mengganggu apalagi merongrong penguasa.
Di tempat seperti Digoel itulah kehadiran Djojotoegimin seharusnya menjadi penting. Setidaknya dia bisa menjadi “pembunuh” kesunyian Digoel. Sebab, sebelum dibuang ke Boven Digoel, dia memang seorang musisi profesional.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.
















