- 24 Okt 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 7 Mar
DI MASA pendudukan Jepang, para siswa negeri jajahan di tiap institusi pendidikan wajib digunduli kepalanya. Cukur gundul ini berlaku untuk semua jenjang, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dalam tradisi Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. Untuk itu, tentara Jepang kerap dilibatkan untuk menertibkan para murid supaya dicukur gundul tanpa perlawanan.
Namun, bagi kebanyakan orang Indonesia, kepala adalah bagian tubuh yang sakral. Pantang untuk disentuh sembarangan apalagi secara paksa. Selain itu, praktik cukur gundul –dan latihan kemiliteran– di sekolah-sekolah dianggap sebagai bentuk upaya Jepang menanamkan benih fasisme di wilayah jajahannya, termasuk Indonesia. Tak ayal kebijakan cukur gundul ini kerap diprotes murid-murid sekolah, khususnya mereka yang berpikiran maju dan anti-fasisme. Itulah yang terjadi di Ikkai Dai Gakku (Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta pada 1942.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












