top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Dokter Soebandrio Digebuk Jepang

Menolak aksi cukur gundul di almamaternya, Soebandrio harus berurusan dengan kempetai dan kehilangan pekerjaan. Setelah meninggalkan dunia kedokteran, Soebandrio banting setir menjadi politikus hingga menjadi orang penting di era Sukarno.

24 Okt 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Soebandrio. (Wikimedia Commons).

Diperbarui: 10 Des 2025

DI masa pendudukan Jepang, para siswa negeri jajahan di tiap institusi pendidikan wajib digunduli kepalanya. Cukur gundul ini berlaku untuk semua jenjang, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dalam tradisi Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. Untuk itu, tentara Jepang kerap dilibatkan untuk menertibkan para murid supaya dicukur gundul tanpa perlawanan.


Namun, bagi kebanyakan orang Indonesia, kepala adalah bagian tubuh yang sakral. Pantang untuk disentuh sembarangan apalagi secara paksa. Selain itu, praktik cukur gundul –dan latihan kemiliteran– di sekolah-sekolah dianggap sebagai bentuk upaya Jepang menanamkan benih fasisme di wilayah jajahannya, termasuk Indonesia. Tak ayal kebijakan cukur gundul ini kerap diprotes murid-murid sekolah, khususnya mereka yang berpikiran maju dan anti-fasisme. Itulah yang terjadi di Ikkai Dai Gakku (Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta pada 1942.


Menurut buku Sedjarah Pedjuangan Pemuda Indonesia, dalam suatu masa perpeloncoan, serdadu Jepang dengan paksa menggunduli calon-calon mahasiswa. Karena tindakan ini dirasakan sangat menghina, mereka membangkang dengan melawan aksi penggundulan. Namun, serdadu Jepang terus memaksa melakukan tindakannya. Hal ini meingkatkan kemarahan para mahasiswa hingga menimbulkan unjuk rasa. Kadang terjadi bentrokan antara mahasiswa yang hanya bersenjatakan buku mengnhadapi serdadu Jepang bersenjatakan bedil dan pedang katana.


“Dalam suatu peristiwa pergundulan, di Boxlaan mahasiswa Soebandrio dan beberapa temannya mendapat pukulan keras dari Jepang,” sebut Panitia Penyusun Biro Pemuda Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Sedjarah Pedjuangan Pemuda Indonesia.


Soehario Padmowirio alias Hario Kecik menyebut, Soebandrio telah menjadi dokter saat insiden menentang praktik cukur gundul terjadi. Dengan kata lain, Soebandrio adalah alumni Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta. Hario Kecik sendiri masih berstatus mahasiswa kedokteran. Ia turut terlibat menentang aksi penggundulan rekan-rekannya.


Kelompok mahasiswa asal Sumatra yang fasih berbahasa Indonesia juga vokal dalam menyuarakan protes kepada Jepang. Tersulutlah agitasi bahwa penggundulan itu merupakan penghinaan besar terhadap martabat anak bangsa. Namun, orasi Soebandrio menarik perhatian Hario Kecik. Mereka kebetulan sama-sama berasal dari Jawa Timur.


“Dalam kesempatan itu, Soebandrio yang telah lulus sempat menjadi dokter pada waktu Jepang masuk dan Belanda menyerah kepada Jepang. Bersama istrinya Hurustiati yang juga seorang dokter, berpidato menggebu-gebu untuk melawan penggundulan. Suami-istri itu berbicara dalam bahasa Indonesia berlogat Jawa Timur campur bahasa Belanda,” kenang Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia.


Aksi Soebandrio ternyata berakibat fatal. Ia harus berurusan dengan Kempetai, polisi rahasia Kekaisaran Jepang yang terkenal kejam. Setelah ditangkap, Soebandrio diinterogasi dan sempat ditahan beberapa minggu.


Soebadio Sastrosatomo dalam biografinya yang ditulis Rosihan Anwar, Soebadio Sastrosatomo: Pengemban Misi Politik, merekam perlakuan yang dialami oleh Soebandrio. “Soebandrio dengan tiada alasan dipukul sampai jatuh kemudian ditendang mukanya oleh seorang serdadu Jepang,” catat Rosihan.


Soebadio sendiri saat itu berstatus mahasiswa kedokteran dan terhitung juniornya Soebandrio. Setelah kejadian itu, Hario Kecik mengenang, Soebandrio bersama istrinya, Hurustiati, menghilang dari lingkungan sekolah tinggi kedokteran di Salemba, Jakarta. Baik Soebadio maupun Hario Kecik kemudian meninggalkan sekolah kedokteran. Soebadio kemudian dikenal sebagai politisi Partai Sosialis Indonesia (PSI) sedangkan Hario Kecik menjadi tentara. Ia menjadi panglima Kodam IX Mulawarman di Kalimantan Timur periode 1959—1965. Pangkat terakhirnya mayor jenderal.


“Soebandrio dan istrinya menghilang, hanya baru muncul sesudah penyerahan kedaulatan,” kata Hario.


Sempat berseteru dengan Jepang hingga dikeluarkan dari tempat kerjanya, Soebandrio membuka poliklinik partikelir di Semarang. Setelah Perang Kemerdekaan, Soebandrio terjun ke kancah politik dan kariernya terus menanjak hingga ia lepaskan profesi kedokterannya.


“Sesudah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, ia terjun dalam lapangan politik dan turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah Semarang diduduki oleh tantara Belanda ia pindah ke Surakarta dan masuk di Kementerian Penerangan di Jakarta,” demikian terang Kami Perkenalkan.*


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
bottom of page