top of page

Gerakan Anti-Gundul Pelajar Masa Jepang

Jepang mewajibkan murid-murid Indonesia gundul. Melibatkan tentara bersenjata lengkap untuk menggunduli murid,

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 7 Des 2020
  • 3 menit membaca

Matahari bersinar terik pagi itu. Wajah murid-murid Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Jakarta penuh peluh. Mereka masih senam pagi atau taiso bersama seorang guru di lapangan. Mereka kelihatan senang meski lelah. Ini kebiasaan baru murid sekolah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tujuannya agar murid lebih disiplin dan fisiknya kuat.  


Seorang pengawas sekolah (minami san) lalu memanggil guru di lapangan. Dia menyampaikan SMT Jakarta akan memberlakukan aturan kepala gundul untuk guru dan murid-murid lelaki. Guru meneruskan informasi itu ke para murid. Karuan wajah murid-murid lelaki berubah muram.


Aturan menggunduli rambut berlaku umum di tiap jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. “Kita harus gundul seperti keadaan mereka,” kata Daan Jahja, mantan murid sekolah umum, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi dalam Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang mengalaminya.


Tapi sekolah swasta seperti pesantren tak wajib mengikutinya. “Di sekolah agama kami belajar waktu itu, Balige, kami diberi kebebasan berpakaian seperti pakaian pemuda sekarang, celana panjang, baju putih, rambut tidak usah gundul, dan berpeci, tidak diharuskan memakai pakaian sebagaimana chugako yang harus memakai pakaian Jepang,” sebut Darwis Abdullah, mantan murid sekolah swasta di Balige, Sumatra Utara.


Menurut orang Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. “Hal demikian sudah menjadi tradisi di Jepang kali itu,” kata Eddy Djoemardi Djoekardi dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945.


Kebijakan menggunduli kepala itu juga tak lepas dari orientasi pendidikan mereka di Indonesia. “Tujuan pendidikan pada zaman Jepang di Indonesia adalah menyediakan tenaga-tenaga buruh kasar secara cuma-cuma (Romusha) dan prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan Jepang,” catat Setijadi dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1974.


Jepang semula menerapkan penggundulan kepala kepada murid-murid sekolah dasar, lalu menengah, dan mahasiswa perguruan tinggi. Sebermula murid-murid lelaki menerima saja kebijakan ini. Lagipula kalau tak mau gundul, mereka tak boleh masuk ke sekolah.


Belakangan pengawas sekolah Jepang dan orang-orang Jepang seringkali bertindak memaksa dan main kasar. Pukulan kerap melayang kepada guru-guru dan murid yang dianggap bersalah. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Operasi penggundulan kepala itu sampai melibatkan tentara seperti menimpa mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran).


“Pihak Jepang membawa sejumlah serdadu lengkap dengan senjata yang siap tembak. Tentu di antara mahasiswa ada yang mau dan ada yang tidak mau. Yang kontra mulai mangkir-mangkir ke kuliah dan bergabung dengan kelompok gerakan bawah tanah,” lanjut Eddy.


Dari sini muncul penolakan terhadap penggundulan kepala ini secara luas. Antara lain dari murid-murid SMT Jakarta. Ada murid pelopornya, tapi dirahasiakan. “Karena di antara siswa SMT ada juga kaki tangan Jepang,” tambah Eddy.


Dukungan anti-gundul muncul pula dari guru-guru bangsa Indonesia. Mereka mencoba memberi pengertian kepada pengawas sekolah Jepang bahwa rambut itu sakral bagi sebagian besar orang Indonesia. “Sehingga disentuh saja tidak boleh,” terang Eddy.


Tapi pengawas Jepang justru tambah berang mendengar penjelasan itu. Dia menganggap alasan itu hanya dibuat-buat. Senyampang itu, dia menarik dan menjambak rambut guru tersebut ke belakang. Bruk. Guru itu jatuh ke lantai.


Pengawas itu lalu berteriak pada murid lelaki. Murid perempuan juga kena hardik. Dia menganggap murid perempuan ikut mendukung gerakan anti-gundul di SMT. “Kami anak-anak perempuan ikut mendukung dan mogok belajar,” ungkap Indraningsih Wibowo kepada Eddy dalam Jembatan Antar Generasi. Akibatnya mereka semua kena hukuman.


Karena gerakan anti-gundul ini, situasi SMT Jakarta sempat tegang. Sebagian kecil murid lelaki memilih jalan tengah dengan mencukur pendek rambutnya. Tapi tak sampai gundul. Sebagian besar mereka tetap berambut seperti biasa. Mereka berjaga di pintu masuk sekolah untuk melarang masuk murid-murid gundul.


Sekolah akhirnya meliburkan aktivitas belajar-mengajar selama beberapa hari. Para murid, guru, dan orangtua sempat cemas dengan keputusan libur itu. Mereka mengira pengawas sekolah melaporkan urusan ini ke Kempeitai atau polisi rahasia Jepang yang terkenal suka menyiksa.


Kecemasan mereka kian besar setelah mendengar Abdul Fatah, salah satu murid anti-gundul di Jakarta, dibawa ke rumah seorang penilik sekolah (Shidokan) selama sebulan. “Secara berganti-ganti diinterogasi oleh orang-orang Kempeitai,” terang Eddy.


Tapi kekhawatiran mereka sirna. Tak ada laporan ke Kempeitai. Pengawas sekolah mengalah dengan membiarkan murid-murid lelaki berambut seperti sediakala. “Kemenangan ada di pihak SMT Djakarta,” kenang Eddy.   


Pendudukan Jepang di Indonesia berakhir pada 1945. Aturan sekolah pun berubah. Tak ada keharusan gundul pada masa revolusi. Malah rambut gondrong dipandang sebagai simbol perjuangan. Sebab para murid ikut berjuang ke palagan. Tak ada waktu untuk mengurusi rambut. Semakin gondrong, semakin berjuang.





Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
transparant.png
bottom of page