top of page

Tukang Sunat Anak Pejabat

Demi berkecimpung dalam politik di masa revolusi, Soebandrio menanggalkan profesinya sebagai ahli bedah yang masih sangat langka saat itu. Meski demikian, ia tak sepenuhnya kehilangan keahlian dalam membedah dan menyayat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Soebandrio, menteri luar negeri Indonesia, bernyanyi dalam menyambut kehadiran Presiden Sukarno di Makassar, saat kampanye Trikora. (TIME).

11 Okt 2025
3 menit membaca

HANYA ada lima dokter bedah di Jawa pada awal 1940-an. Tiga orang dari Batavia, dua lainnya di Surabaya. Ini membuktikan keahlian dokter bedah saat itu masih begitu langka dan tentunya dibayar dengan harga mahal. Dokter bedah lumrahnya berperan penting dalam tindakan operasi pasien, baik itu operasi kecil maupun besar.

 

“Ketika itu jumlah dokter umum masih sangat jarang, apalagi dokter spesialis. Kalau tidak salah, dokter ahli bedah hanya ada lima orang. Tiga dari Jakarta, termasuk saya, dua dari Surabaya,” tutur Soebandrio dalam Kesaksianku Tentang G30S.

 

Soebandrio adalah salah satu dari lima dokter bedah di Jawa menjelang masa pendudukan Jepang. Anak kedua wedana Kepanjen, Malang ini menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Kedokteran atau Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (GHS) di Salemba, Jakarta. GHS yang berdiri pada 1927 ini merupakan lanjutan dari Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) yang telah berdiri sejak 1851. Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Soebandrio mengambil spesialis bedah perut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page