top of page

Bong Supit Bogem

Sebuah dusun di Yogyakarta jadi trade mark usaha jasa khitan sejak puluhan tahun lalu hingga kini. Mengkhitan semua kalangan hingga keraton dan Cendana.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Prosesi khitanan putra mahkota Sultan Hamengkubuwono VII di alun-alun utara Yogyakarta tahun 1920. (Kassian Cephas/Tropenmuseum).

28 Okt 2023
7 menit membaca

Diperbarui: 26 Mei

KETIKA hendak mengkhitankan anak lelakinya pada awal 1990-an, Daruni bersama suaminya mendatangi bong supit Bogem di daerah Kalasan, Prambanan, Yogyakarta. “Dalam alam pikir orang Yogya, jika ingin supit ya ke Bogem,” ujar Uni, panggilan akrab Daruni, merujuk juru khitan di dusun Bogem, tepatnya di Jalan Solo Km. 16 Kalasan, Sleman, Yogyakarta. 


Supit dalam bahasa Jawa berarti alat untuk menjepit atau khitan. Maka, bong supit berarti juru khitan. 


Setelah mendaftar, tak lama kemudian, putra Uni pun dipanggil masuk. Tak ingin melewatkan bagian penting dari ritus kedewasaan putranya, Uni ikut menemani. “Juru supitnya sabar. Dia terus mengobrol dengan anak saya. Dari soal sekolah hingga cita-cita. Sementara tangan si juru supit terus bekerja. Saya pikir, dengan mengobrol, perhatian si anak teralihkan dari proses khitan yang dijalaninya,” ujar Uni, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga salah satu pentolan Bengkel Tari Nini Thowok. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page