- 28 Okt 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 26 Mei
KETIKA hendak mengkhitankan anak lelakinya pada awal 1990-an, Daruni bersama suaminya mendatangi bong supit Bogem di daerah Kalasan, Prambanan, Yogyakarta. “Dalam alam pikir orang Yogya, jika ingin supit ya ke Bogem,” ujar Uni, panggilan akrab Daruni, merujuk juru khitan di dusun Bogem, tepatnya di Jalan Solo Km. 16 Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
Supit dalam bahasa Jawa berarti alat untuk menjepit atau khitan. Maka, bong supit berarti juru khitan.
Setelah mendaftar, tak lama kemudian, putra Uni pun dipanggil masuk. Tak ingin melewatkan bagian penting dari ritus kedewasaan putranya, Uni ikut menemani. “Juru supitnya sabar. Dia terus mengobrol dengan anak saya. Dari soal sekolah hingga cita-cita. Sementara tangan si juru supit terus bekerja. Saya pikir, dengan mengobrol, perhatian si anak teralihkan dari proses khitan yang dijalaninya,” ujar Uni, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga salah satu pentolan Bengkel Tari Nini Thowok.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















