top of page

Empat Gerilyawan Korea di Palagan Garut

Kisah pemuda-pemuda dari Negeri Gingseng yang mengabdikan diri untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 Sep 2020
  • 3 menit membaca

Nama Yang Chil Sung alias Komarudin saat ini sudah mulai dikenal banyak orang Indonesia. Sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia asal Korea, kiprahnya mulai terangkat tiga tahun belakangan ini, ketika beberapa media asal Korea Selatan seperti Radio KBS dan MBC TV membuat liputan khusus tentang kisah hidup lelaki asal kota Wanju tersebut selama berjuang sebagai gerilyawan Indonesia di Garut.


Bahkan kepada Metro TV beberapa waktu lalu, Bupati Garut Rudy Gunawan pernah menyatakan akan memasukan Yang Chil Sung sebagai pahlawan lokal sekaligus menabalkan namanya untuk satu ruas jalan di kota Garut.


“Beliau pantas mendapatkan penghormatan sehingga namanya akan kami abadikan sebagai nama jalan (di kota Garut),” ujarnya.


Namun sejatinya, Yang Chil Sung bukanlah satu-satunya orang Korea yang terdampar di Garut dan menggabungkan diri dalam gerakan pembebasan tanah air orang-orang Indonesia. Dalam catatan saya, ada sekitar 3 orang Korea lain di tubuh Pasukan Pangeran Papak (kemudian melebur dalam Markas Besar Gerilja Galoenggoeng).


“Peran mereka pun, saya kira tak kalah penting,” ungkap Kim Moon Hwan, sejarawan publik asal Korea Selatan. Berikut nama-nama orang-orang Korea yang aktif di front Garut selama 1946-1948.


Yang Chil Sung


Sosok Yang Chil Sung kali pertama muncul di media Indonesia ketika wartawan senior asal Garut Yoyo Dasriyo menulis kisah kehidupannya di sebuah media online Jawa Barat pada 2013. Namanya kemudian semakin dikenal khalayak (terutama di dunia maya), saat pada 2015 wartawan dari Radio KBS (Korea Selatan) Chae-eui Hong datang ke Garut dan membuat suatu liputan panjang mengenai kiprah lelaki yang memiliki nama Jepang “Yanagawa” itu.


Seperti dikatakan oleh Rostineu, pengamat sejarah orang-orang Korea di Indonesia, Yang Chil Sung datang kali pertama ke Indonesia pada sekitar 1943 bersama ribuan phorokamsiwon (penjaga tawanan perang). Pada sekira 1946, dia bersama kawan-kawan Jepang-nya kemudian bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak, organ gerilyawan Indonesia asal Garut.


Aktif sebagai pejuang Indonesia dan memimpin unit Regu Putih (khusus mengurusi soal sabotase), Yang Chil Sung lebih dikenal orang-orang Garut dengan nama lokal-nya yakni Komarudin. Dalam suatu penggerebekan oleh militer Belanda di Gunung Dora, Tasikmalaya pada akhir Oktober 1948, Yang Chil Sung tertangkap. Tujuh bulan kemudian, dia dihukum mati oleh pihak militer Belanda dan kemudian dimakamkan di Garut.


Guk Jae-man


Di kalangan para pejuang Garut, Guk Jae-man lebih dikenal sebagai Soebardjo. Dalam struktur organisasi MBGG, namanya disebut-sebut sebagai koordinator bagian intelijen. Kendati sangat sedikit informasi mengenai Jae-man ini, namun namanya sempat dibahas oleh Utsumi Aiko dalam buku Aka michi shita no choosonin banran (Pemberontakan Rakyat Joseondi Bawah Garis Khatulistiwa).


Utsumi yang menemui istrinya bernama Maria pada 1981, sempat mendapatkan surat terakhir Jae-man kepada keluarganya. Dalam surat tersebut, tergambar betapa lelaki Korea itu sangat kesepian, putus asa dan memendam rasa rindu yang sangat kepada keluarganya selama berpetualang di hutan-hutan Garut dan Tasikmalaya.


Jae-man tewas di ujung bedil para serdadu Belanda pada suatu siang, 26 Oktober 1948. Bersama rekan-rekan lainnya yakni Djoeana Sasmita, Masharo Aoki, Hasegawa Katsuo dan Yang Chil Sung, dia sebenarnya tertangkap hidup-hidup.


“Namun menurut bapak saya, saat ditawan itu dia berusaha lari lalu ditembak mati waktu itu juga,” ujar Kandar, putra pertama dari Djoeana Sasmita.


Saat ditangkap, pihak militer Belanda merampas sebuah catatan harian dari tangan Jae-man.


Lee Gil Dong


Sosok ini masih merupakan misteri. Kendati namanya sempat disebut oleh Utsumi Aiko dalam bukunya, namun secara terperinci sepakterjangnya kurang termunculkan. Dalam catatan hariannya, Djoeana Sasmita menyebut nama Gil Dong sebagai Oemar.


Di kalangan orang-orang Wanaraja (pangkalan awal Pasukan Pangeran Papak), Oemar dikenal sebagai “orang Jepang yang selalu mengobati orang sakit”. Namun dalam suatu dokumen NEFIS (Pelayanan Informasi Intelijen Belanda), saya menemukan peran Oemar adalah sebagai koordinator voorlichting (bagian informasi).


Saat Insiden Gunung Dora, nasib Oemar tidaklah jelas. Kim Moon Hwan dan Utsumi Aiko menyebut lelaki Korea itu langsung tewas saat penggerebekan dimulai pada jam 1 dini hari, 26 Oktober 1948. Namun dalam catatan hariannya, Djoeana menyebut Oemar berhasil lolos.


Woo Jong Soo


Saat tinggal di Gunung Dora, lelaki Korea ini dikenal luas oleh para penduduk di Desa Parentas (kaki Gunung Dora), Tasikmalaya dengan nama lokal: Adiwirio. Alih-alih sebagai petempur, sosoknya lebih dikenang sebagai pejuang yang pandai bertani.


Haji Udin (87), masih ingat bagaimana Adiwirio mengajarkan penduduk untuk menanam kol, kentang dan sayuran lainnya. Dia pun dikenal sebagai pemasok logistik bagi para gerilyawan MBGG.


“Keahliannya bertani benar-benar hebat,” kenang lelaki yang waktu bocah besar di Desa Parentas itu.


Jong Soo termasuk gerilyawan yang lolos dari Insiden Gunung Dora pada 26 Oktober 1948. Dia berhasil meluputkan diri ke hutan. Keterangan Haji Udin itu terkonfirmasi oleh catatan harian Djoeana yang menyebut Jong Soo bisa hidup sampai usia senja dan kemudian meninggal di Cianjur pada pertengahan 1980-an.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page