- 13 Mei 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 6 Mei
SEBELUM banyak orang Jawa mendatanginya, daerah ini sudah bernama Gedong Tataan. Sejak 1905, nama Gedong Tataan mulai disebut-sebut di koran-koran Hindia Belanda karena adanya kolonisatie (kolonisasi) atau kini disebut transmigrasi, dengan para pelakunya disebut kolonis.
Setelah Trias Politik mulai dianut, pemerintah Hindia Belanda terpikir untuk membangun “koloni” Jawa di Lampung. Transmigrasi sendiri bagian dari Politik Etis yang –penerapannya bertolak dari Trias Politik– dijalankan pemerintah kolonial. Jawa sudah terlalu penuh dengan perkebunan, industri, dan ladang sehingga persawahan untuk rakyat harus dicari lagi.
Persiapan pembukaan “koloni” dilakukan sebelum pendatang dari Jawa tiba. Pada 1904, Gedong Tataan dipilih sebagai daerah sasaran. Soerabaijasch Handelsblad, 14 Mei 1907, menulis, sejak 12 Mei 1905 dua mantri dari Jawatan Pengairan dan ahli ukur dikirim ke sana untuk memeriksa. Mereka memetakan daerah yang hendak dijadikan ladang dan permukiman. Setelah keluar kajian yang dilakukan HG Heijting, mantan asisten residen Sukabumi, pemerintah mengeluarkan Goverment Besluit 19 Oktober 1905 nomor 46.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















