- 13 menit yang lalu
- 5 menit membaca
AMERIKA SERIKAT (AS) bertanggung jawab atas serangan terhadap Sekolah Dasar (SD) Shajarah Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran 28 Februari 2026 lalu. Demikian bunyi hasil investigasi awal militer AS.
Harian New York Times, 11 Maret 2026 mengungkapkan bahwa menurut beberapa pejabat pemerintah AS yang tak disebutkan namanya dan mengetahui temuan-temuan awal investigasinya, AS harus bertanggung jawab atas serangan misil Tomahawk ke SD Shajarah Tayyebeh. Sekitar 175 orang wafat, sebagian besar para siswi putri, serta 95 lainnya terluka.
Sekolah itu dulunya merupakan bagian dari kompleks militer Korps Garda Revolusi Iran, IRGC. Bangunan itu lalu ditinggalkan dan kemudian dijadikan sekolah dasar dan area bermain anak. Sialnya, menurut temuan awal laporan tadi, Komando Pusat AS menggunakan data Defense Intelligence Agency yang sudah usang untuk melancarkan serangan.
Beberapa investigasi independen lain juga mengindikasikan hal serupa. Salah satu organisasi HAM sampai menyamakan serangan itu dengan Pembantaian My Lai di Perang Vietnam (1955-1975) hampir enam dekade lampau.
“Serangan AS terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, sangat keterlaluan, membunuh sekitar 175 orang. Kebanyakan korban tewasnya anak-anak, menjadikannya korban anak-anak terbesar dalam sebuah serangan militer AS sejak Pembantaian My Lai di Vietnam pada 1968. Hal ini seharusnya mengguncang hati nurani bangsa kita, sama seperti jika hal yang sama terjadi pada anak-anak di sebuah sekolah sekolah Amerika,” kecam Jeremy Konyndyk, presiden organisasi HAM Refugees International di laman resminya, 11 Maret 2026.
Baca juga: Pembantaian Paman Sam di Vietnam

Pilot Heli Menghentikan Tragedi
Pagi 16 Maret 1968 itu, pilot Letnan Thompson Jr. ditemani Lawrence Colburn (penembak) dan Glenn Andreotta (kru) terbang dengan helikopter Hiller OH-23 Raven. Tugas mereka sekadar pengintaian udara ke empat dusun di Desa Son My, Vietnam, sebagai bagian dari “Operasi Son My” yang dilancarkan Gugus Tugas Barker.
“Pagi itu kami melakukan pengintaian untuk operasi darat di (dusun) My Lai 4 yang bagi kami diberi kode ‘Pinkville’. Saya menerbangkan heli intai yang dikawal dua heli serbu. Tugas saya mengintai di garis depan, menginformasikan di mana musuh berada untuk mereka bereskan. Desa itu lebih dulu digempur artileri menjelang serangan,” kenang Thompson dalam sebuah forum akademik di Universitas Tulane medio Desember 1994, dikutip David L. Anderson dalam Facing My Lai: Moving Beyond the Massacre.
Gugus Tugas Barker pimpinan Letkol. Frank A. Barker berkomposisi dua kompi: Kompi C dari Batalyon ke-1 Resimen Infanteri ke-20 dan Kompi B dari Batalyon ke-4 Resimen Infanteri ke-3. Kedua unit itu bagian dari Brigade ke-11 Divisi ke-23 AD AS. Letnan Thompson sendiri salah satu pilot dari Kompi Intai Udara B Batalyon Penerbangan ke-123 AD yang turut di-BKO-kan ke gugus tugas tersebut.
Dari laporan data intelijen Phoenix Program yang dijalankan dinas intelijen AS CIA, Dusun My Lai 4 di Desa Son My disebutkan sebagai basis persembunyian pasukan Batalyon Lokal ke-38 Viet Cong. Maka pasukan darat diinstruksikan untuk bebas menembak siapapun yang ada di area itu.
“Kompi Charlie bergerak untuk menetralisir kampung itu. Sempat terjadi kebingungan di antara para pasukan tentang apa artinya (menetralisir). Bagian yang menjadi masalah itu adalah intelijen yang buruk. Komisi Peers yang menginvestigasi, menyimpulkan bahwa rencana operasinya ‘berdasarkan asumsi yang salah mengenai kekuatan dan disposisi musuh dan soal ketiadaan non-kombatan (sipil) dari area operasi,” ungkap Michael R. Belknap dalam The Vietnam War on Trial: My Lai Massacre and the Court-martial of Lieutenant Calley.
Akibat kekeliruan data intelijen yang fatal, Peleton ke-1 Kompi C pimpinan Letnan William Calley Jr. bergerak ke Dusun My Lai 4 dengan melancarkan serangan membabi-buta. Tidak ada pasukan Viet Cong di sana. Hanya ada warga sipil. Hal serupa juga dilancarkan Kompi B ke Dusun My Khe 4. Thompson menyaksikan horor itu di area Dusun My Lai 4 dari udara dengan mata terbelalak seakan tak percaya.
“Kami terus terbang berkeliling, mengintai garis depan dan belakang dan tak butuh waktu lama sampai kami melihat banyak mayat. Di mana-mana kami melihat mayat bergelimpangan. Ada balita usia dua, tiga, empat, lima tahun; perempuan; para lansia,” sambung Thompson.
Mulanya Thompson dan krunya mengira mereka adalah korban pemboman artileri. Namun setelah melihat sendiri seorang korban sipil terluka dieksekusi Komandan Kompi C Kapten Ernest Medina, dirinya segera menyadari bahwa mereka ternyata dibantai pasukan darat. Kelak, gadis itu teridentifikasi sebagai Nguyen Thi Tau, berusia 20 tahun.
“Kami sempat mendarat di sebuah parit yang terdapat banyak mayat namun ada beberapa korban terluka yang masih bergerak. Saya meminta seorang sersan (Sersan David Mitchell dari Peleton ke-1, red) di darat agar ia bisa menolong mereka. Ia bilang, satu-satunya cara menolong mereka adalah mengakhiri penderitaan mereka. Saya kaget. Sempat saya kira ia bercanda. Lalu kami terbang lagi dan kru saya bilang: ‘Ya Tuhan, dia (Sersan Mitchell) menembaki parit’. Sempat dua-tiga kali kami minta agar para korban ditolong tapi setiap kali itu pula korban-korban itu dibunuh,” lanjutnya.

Mengutip Trent Angers dalam The Forgotten Hero of My Lai: The Hugh Thompsin Story, Thompson melaporkannya ke markas Gugus Tugas Barker via radio. Ia juga sempat mendarat lagi untuk mengonfrontir Letnan Calley saat melakukan pembantaian di parit yang lain.
“Apa yang terjadi di sini, Letnan? Siapa orang-orang ini?” tanya Thompson.
“Ini urusan saya. (Saya) hanya menjalani perintah,” jawab Calley.
“Perintah? Perintah dari siapa? Mereka manusia, sipil tak bersenjata, Pak,” protes Thompson.
“Dengar Thompson, ini urusan saya. Saya yang berwenang di sini. Ini bukan urusan Anda. Baiknya Anda balik ke heli dan urus saja urusanmu,” hardik Calley.
Thompson belum menyerah. Di area lain ia mendarat lagi setelah melihat banyak warga sipil terluka di dekat sebuah bunker. Thompson mendaratkan helinya di antara warga sipil dan pasukan Peleton ke-2 pimpinan Letnan Stephen Brooks untuk mencegah pasukan darat membantai mereka.
“Hei, dengar, tahan tembakanmu! Saya akan berusaha membawa orang-orang ini dari bunker. Tahan pasukanmu di sini,” Thompson memperingatkan.
“Ya, kami bisa membantu Anda mengeluarkan mereka dari bunker – dengan granat tangan!” celetuk Brooks.
“Tahan saja pasukan Anda di sini. Saya pikir saya bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu!” perintah Thompson.
Lantas Thompson memerintahkan para pilot yang menerbangkan beberapa heli Bell UH-1 Huey untuk mengevakuasi sekitar 11 korban terluka dari bunker itu. Sementara ia sendiri kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar lagi, sekaligus memberikan laporan secara langsung ke Letkol Barker. Dari markas, Letkol Barker via radio memerintahkan menghentikan pembantaian.
Total sekitar 504 nyawa melayang dalam Pembantaian My Lai oleh Kompi C itu, termasuk yang terjadi di Dusun My Khe oleh Kompi B. Banyak dari mereka anak-anak. Investigasi internal yang digelar AD mengungkap, ternyata tak hanya pembantaian namun juga terjadi pembakaran hingga penyiksaan seksual dan pemerkosaan massal terhadap korban perempuan antara usia 10-45 tahun.
Sementara, jurnalis investigasi Seymour Hersh juga membongkar tragedinya. Laporannya turut mengguncang pemerintahan Presiden Richard Nixon hingga akhirnya investigasi berskala besar digelar Komisi Peers pimpinan Letjen William R. Peers, dengan Thompson sebagai salah satu saksi kuncinya.
Pengadilan militer pada 17 November 1970 mendakwa 12 perwira, termasuk panglima Divisi Infanteri ke-23 Mayhen Samuel W. Koster. Namun, hanya Letnan Calley yang divonis bersalah atas temuan bukti pembantaian 22 warga sipil dengan hukuman penjara seumur hidup –namun kemudian direvisi hanya menjalani masa tahanan rumah selama 3,5 tahun.
“My Lai bukan sebuah (pembantaian) yang menyimpang. Sejak akhir 1968 sampai pertengashan 1969, Divisi Infanteri ke-9 AD AS di bawah Mayjen Julian Ewell, juga melancarkan kampanye brutal di populasi padat Delta Mekong dengan tujuan melenyapkan Viet Cong dengan jumlah korban mirip seperti pembantaian My Lai setiap bulannya,” tukas Frank Walker dalam The Tiger Man of Vietnam.









