- 29 Okt 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 4 Feb
PEMBERONTAKAN awak kapal De Zeven Provincien dengan cepat menimbulkan berbagai reaksi, baik di Hindia Belanda maupun di Belanda. Di Batavia, kecaman datang dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C. de Jonge yang dalam pidatonya pada 7 Februari 1933 menyebut aksi para matros kapal perang Hindia Belanda itu sebagai tindakan tak bertanggungjawab.
Pernyataan gubernur jenderal tersebut diamini oleh De Vaderlandse Club, sebuah perkumpulan warga Hindia Belanda beraliran konservatif sekaligus penyelenggara apel kesetiaan di mana de Jonge berpidato. Sebagaimana ditulis oleh Elly Touwen-Bouwsma dalam “Pemberontak atau Perintis Kemerdekaan: Tanggapan Indonesia terhadap Pemberontakan di Kapal De Zeven Provincien”, termuat di buku De Zeven Provincien: Ketika Kelasi Indonesia Berontak (1933), ribuan penduduk Eropa, pribumi, dan Tionghoa hadir dalam pertemuan di Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), Batavia itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












