top of page

Setelah Peluit Kapal Berbunyi

Sebagai bentuk protes pengurangan gaji dan penahanan rekan mereka di Surabaya, awak kapal Indonesia memberontak di kapal De Zeven Provincien.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi pengeboman kapal De Zeven Provincien di koran Soerabaiasch Handelsblad, 13 Februari 1933.

27 Okt 2024
7 menit membaca

Diperbarui: 4 Feb

KAPAL Hr. Ms. De Zeven Provincien bertolak dari pelabuhan Surabaya pada 2 Januari 1933 untuk keliling Sumatra selama tiga bulan. Dalam pelayaran latihan ini, awak kapal terdiri dari 141 Eropa (30 perwira dan 26 perwira menengah) dan 256 pribumi (tujuh perwira menengah dan 80 siswa KIS atau Kweekschool voor Inlandse Schepelingen atau Pendidikan Dasar Pelaut Pribumi).  


Sesaat sebelum berlayar, komandan kapal P. Eikenboom menyampaikan bahwa belum ada keputusan tentang pengurangan gaji. Dia berharap masalah itu tidak menjadi penghalang selama perjalanan. Untuk mengendurkan ketegangan, selama perjalanan akan diadakan pesta persaudaraan dan pertandingan sepakbola. Di Tanjung Priok diadakan pertandingan tolak peluru. Di Padang Panjang, Sumatra Barat, ada acara pesta persaudaraan marinir dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page