- 25 Sep 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
Sebagai tentara, Sersan Dua (Serda) Gijadi bin Wignjosukardjo hanya bisa patuh apa perintah komandan. Pada 30 September 1965, Gijadi bersama rekan-rekannya di Kompi B Batalyon Kawal Kehormatan I Resimen Tjakrabirawa dikumpulkan oleh atasannya. Mereka diperintahkan melaksanakan sebuah tugas khusus.
“Pada tanggal 30 September 1965 saya diperintahkan untuk konsinyir berat (berkumpul) dan pada jam 10.30 kami dengan pasukan dibawa ke Lubang Buaya. Di sana kami oleh sersan Raswad disuruh istirahat,” aku Gijadi dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) 25 Februari 1966 di Jakarta, sebagaimana tercatat dalam Gerakan 30 September di Hadapan Mahmillub 2 di Jakarta: Perkara Untung.
Lubang Buaya jauh dari tempat Gijadi tidur. Komandan salah satu regu di Kompi B KK I Tjakrabirawa itu tinggal bersama para prajurit Tjakrabirawa lain di asrama Tjakrabirawa Tanah Abang II, Jakarta. Dekat dari Istana Negara, asrama Tjakrabirawa sama-sama berada dalam ring 1 oleh karena Tjakrabirawa tugasnya mengawal Presiden Sukarno.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















