- 22 Mei 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 6 Mei
ALIH-ALIH beruntung dan bisa hidup enak, wajah dan perawakan mirip orang kulit putih justru membuat orang-orang Indo-Eropa “semakin” berat hidupnya. Mereka dipinggirkan alias tak diterima di mana-mana.
Hal itu mendorong mereka acapkali mencari tempat baru yang bisa menerima. Maka setelah tahun 1905 banyak desa orang Jawa –menjadi transmigran dalam program Kolonisatie atau transmigrasi kolonial– terbentuk di Desa Bagelen dan sekitarnya di Kecamatan Gedong Tataan, Lampung, orang-orang Indo-Eropa yang termarjinalkan di Hindia Belanda pun tertarik membuka “koloni” atau daerah baru di Lampung. Indo-Europeesch Verbond (IEV) selaku organisasi orang Indo Eropa di Hindia menjadi sponsornya.
“Saya datang ke sini tahun 1925,” kata Karl Emile August Kloer (1877-1966) dalam Winschoter Courant, 2 Juli 1949, “sebagai pemimpin kelompok kecil orang Indo-Eropa yang mencari kehidupan di sini sebagai kolonis. Kami mendapat pinjaman satu ton dan tanah itu dibagi menjadi 11 bidang tanah sewa selama 75 tahun.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















