top of page

Hukuman bagi Pejabat yang Memberatkan Rakyat dengan Pajak

Semasa hidupnya pejabat Tionghoa ini membuat kebijakan yang memberatkan penduduk Batavia. Ketika mati pengusung peti matinya tidak sampai ke tempat pemakaman.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi pemakaman seorang pejabat Tionghoa di Hindia Belanda sekitar tahun 1898. (KITLV).

26 Jul 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 4 Mar

PERILAKU seseorang semasa hidup menentukan bagaimana ia akan dikenang setelah kematiannya. Mereka yang tak pernah lelah melakukan kebaikan ketika hidup akan ditangisi kepergiannya oleh banyak orang. Dalam beberapa kasus, meski hanya orang biasa, prosesi pemakamannya berlangsung dengan penuh hormat, orang-orang berdatangan untuk mengiringi jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Semakin banyak pihak yang merasakan dampak baik dari mendiang, semakin banyak pula orang yang mengekspresikan kehilangan dan mengenang kebaikannya.


Sebaliknya, pemandangan berbeda terlihat pada orang-orang yang semasa hidupnya banyak melakukan keburukan atau merugikan orang lain. Contohnya, kisah pejabat Tionghoa bernama Qiu Zuguan atau Khoe Tsouwko di Batavia pada abad ke-18.


Setelah dilantik menjadi Gubernur Jenderal VOC pada 1705, Joan van Hoorn segera menunjuk sejumlah orang untuk mengisi jabatan di lembaga-lembaga di Batavia, salah satunya College van Boedelmeesters voor de Chinese sterfhuizen atau Boedelkamer.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page