- 12 Jan 2011
- 4 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
SEORANG anak muda, belum lagi berusia 17 tahun membuat gempar pembaca koran Java Bode yang kebanyakan datang dari kalangan priayi dan pejabat pemerintah Belanda. Artikel itu menyerang kebijakan pemerintah yang mengangkat bupati bukan karena kualifikasinya melainkan karena garis keturunan. Goenawan seorang priayi, namun sejak mula ia telah merasakan sesuatu yang tidak beres pada masyarakat jajahan: diskriminasi.
Dia adalah adik dari dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, salah seorang pelopor gerakan nasionalisme di Indonesia. Nama Tjipto jauh lebih dikenal ketimbang adiknya. Tjipto dicatat sebagai pembangkang; sosok anak muda yang pada zamannya berani menentang otoritas kolonial di tengah cengkeraman alam pikiran masyarakat yang masih terbelenggu oleh feodalisme. Akan halnya Tjipto, Goenawan pun memiliki minat terhadap aktivitas politik dan sama-sama bernyali tinggi.
Savitri Prastiti Scherer dalam bukunya, Keselerasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX menulis tentang asal-usul keluarga Mangoenkoesomo. Mangoenkoesomo senior, ayah Tjipto dan Goenawan, bekerja sebagai guru bahasa Melayu di sekolah dasar pribumi di Ambarawa. Pada masa akhir kariernya, ia diangkat menjadi kepala sekolah dasar di Semarang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















