- 7 Mei 2025
- 2 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
SEKOLAH ini pernah menolak seorang Nyong Ambon untuk menjadi siswanya. Pasalnya, nilai pelajaran menggambar Johannes Leimena, calon siswa itu, amat rendah hanya empat. Padahal, menggambar adalah perkara penting dalam kerja-kerja teknik. Leimena akhirnya diterima di sekolah kedokteran. Dia kemudian menjadi dokter hingga menjadi menteri kesehatan, yang dijuluki Bapak Kesehatan Indonesia, dan wakil perdana menteri.
Begitulah ketatnya seleksi masuk ke Koningen Wilhelmina School (KWS), sekolah teknik semasa Hindia Belanda. KWS yang berdiri pada 1901 terletak di Vrijmetselaarsweg atau bisa diterjemahkan sebagai Jalan Freemason atau Jalan Mason Bebas. Kini, nama jalan itu berganti menjadi Jalan Budi Utomo, yang sering disingkat dengan ejaan van Ophuijsen sebagai Boedoet.
Bertahun-tahun setelah Leimena gagal masuk KWS, seorang pendeta dari Tapanuli, Friedrich Silaban, mendaftar ke KWS. Anak pedeta kelahiran Bonandolok, Tapanuli pada 16 Desember 1912 ini lulusan Holland Inlandsche School (HIS) Norumonda. HIS merupakan sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda. Mereka yang ingin masuk KWS harus memiliki ijazah HIS. Namun, bukan itu saja syarat agar Silaban bisa diterima di KWS. Berkat kemampuan menggambarnya yang jauh melebihi Leimena, maka Silaban pun diterima.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















