- 12 Jul 2024
- 7 menit membaca
Diperbarui: 12 Feb
FRANS Kaisiepo nekat menerobos masuk ke dalam penjara kolonial di Hollandia (kini, Jayapura). Gurunya, Soegoro Atmoprasodjo, ditahan di sana. Di dekat pintu kawat berduri yang mengelilingi penjara, bertugas seorang penjaga. Di atas pundak kirinya tersandang sepucuk senapan lengkap dengan bayonet di ujungnya. Kaisiepo beruntung. Penjaga penjara itu ternyata sesama orang Biak.
Setelah melobi dalam bahasa Biak, Kaisiepo dengan mulus bertamu ke penjara. Guru dan murid bersua. Soegoro memberinya wejangan singkat tetapi begitu melekat dalam pikiran Kaisiepo.
“Hari itu, yaitu 9 Juli 1946,” kenang Kaisiepo dalam risalah berjudul “Irian Barat” yang terbit tahun 1961 dan termuat dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia khazanah arsip Marzuki Arifin No. 383. “Rahasia dan janji dipegang teguh. Pertemuan berlangsung selang sejam, tetapi cukup berkesan. Waktu bersalam-salaman tak disengaja keluarlah air mata beliau membasahi pipinya.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












