top of page

Jejak Peranakan dalam Alunan Sejarah Jazz

Kiprah peranakan Tionghoa Indonesia dalam sejarah jazz dari musisi hingga tokoh kunci di balik dapur rekaman.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Harry Lim (kedua dari kanan) bersama Yannich Bruynoche, Joe Thomas, dan Pied Piper di New York, 1946. (The Library of Congress).

20 Apr 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 30 Apr

LAHIR dan populer di kalangan Afro-Amerika pada akhir abad ke-19, musik jazz terus berevolusi seiring pertemuan dan percampuran dengan beragam aliran musik. Jazz juga merambah ke berbagai tempat termasuk ke Indonesia.


Musisi-musisi jazz tanah air bermunculan dari masa ke masa. Dari Likumahuwa Bersaudara, Indra Lesmana, Pra Budi Darma, Tohpati, Dewa Budjana, Syaharani, Andien, hingga yang kekinian macam dr. Teuku Adifitrian alias Tompi, Aditya Ong Trio, dan Joey Alexander. Mereka menjadi penerus tongkat estafet para maestro jazz Indonesia era Jack Lesmana, Bubi Chen, dan Ireng Maulana. 


Di masa awal kemunculan musik jazz, peranakan Tionghoa banyak memainkan peran. Selain Chen Bersaudara, ada Yong Kim, Oei Boen Leng, Freddy Prandi, dan Didi Chia. Oei dan Freddy merupakan guru bagi banyak musisi yang masih aktif di belantika musik Indonesia, termasuk gitaris band Gigi, Dewa Budjana.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page