top of page

Jazz Menjembatani Jepang dan Amerika

Jazz hadir ketika Jepang menghadapi krisis identitas dan kesadaran nasional.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Warga Jepang berdansa di salah satu panggung dansa di Yokohama tahun 1933 (Mainichi Shimbun dalam Blue Nippon: Authenticating Jazz in Japan).

19 Apr 2024
7 menit membaca

Diperbarui: 30 Apr

KETIKA diperkenalkan di Jepang awal abad ke-20, jazz identik dengan kafe dan ruang dansa serta busana layaknya flappers dan dandies yang glamor. Para musisi Amerika dan Filipina kerap tampil di kawasan hiburan yang makmur di Osaka dan Kobe. Kaum muda perkotaan di Jepang pun kepincut. Jazz dianggap sebagai simbol modernisme, di tengah kondisi Jepang yang ultranasionalistik pasca kebijakan sakoku (isolasi).


Sebagai musisi muda, Fumio Nanri, pemain terompet yang kelak dikenal sebagai pionir musisi jazz Jepang, juga menikmati iklim tersebut. Dia rajin tampil di ruang-ruang dansa untuk memainkan foxtrots sebagai musik untuk berdansa. Namun, situasinya tak selalu menyenangkan.


Menurut sejarawan E. Taylor Atkins dalam Blue Nippon: Authentication Jazz in Japan, pejabat kota, polisi, dan aktivis sayap kanan terus-menerus menentang budaya ruang dansa di Jepang. Sebagai tanggapan, beberapa musisi jazz, penari, penyanyi, dan pemilik gedung dansa memilih keluar dari situasi tegang ini dengan pergi ke luar negeri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page