- 19 Apr 2024
- 7 menit membaca
Diperbarui: 18 jam yang lalu
KETIKA diperkenalkan di Jepang awal abad ke-20, jazz identik dengan kafe dan ruang dansa serta busana layaknya flappers dan dandies yang glamor. Para musisi Amerika dan Filipina kerap tampil di kawasan hiburan yang makmur di Osaka dan Kobe. Kaum muda perkotaan di Jepang pun kepincut. Jazz dianggap sebagai simbol modernisme, di tengah kondisi Jepang yang ultranasionalistik pasca kebijakan sakoku (isolasi).
Sebagai musisi muda, Fumio Nanri, pemain terompet yang kelak dikenal sebagai pionir musisi jazz Jepang, juga menikmati iklim tersebut. Dia rajin tampil di ruang-ruang dansa untuk memainkan foxtrots sebagai musik untuk berdansa. Namun, situasinya tak selalu menyenangkan.
Menurut sejarawan E. Taylor Atkins dalam Blue Nippon: Authentication Jazz in Japan, pejabat kota, polisi, dan aktivis sayap kanan terus-menerus menentang budaya ruang dansa di Jepang. Sebagai tanggapan, beberapa musisi jazz, penari, penyanyi, dan pemilik gedung dansa memilih keluar dari situasi tegang ini dengan pergi ke luar negeri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















