top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Jenderal Soedirman Menjadi Tawanan

Dalam perjalanan gerilya, Jenderal Soedirman pernah ditawan tentaranya sendiri.

8 Okt 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Panglima Besar Jenderal Soedirman.

PADA masa perjuangan muncul suasana saling mencurigai. Sampai-sampai rombongan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah ditawan oleh Batalion 102 pada 23 Desember 1948 di Bendo, kurang lebih 24 kilometer dari Tulungagung.


Kapten Soepardjo, ajudan merangkap sekretaris pribadi Soedirman, dibawa ke markas batalion. Sedangkan Soedirman tetap di dalam mobil dengan pasukan pengawal yang telah dilucuti. Di markas batalion, Soepardjo hanya bertemu beberapa perwira yang tak dikenali. Dia pun meminta bertemu dengan komandan batalion, Kapten Zainal Fanani. Seorang perwira menjawab sulit bagi tawanan bertemu dengan komandan.


Soepardjo digeledah dan didapati buku harian yang isinya lengkap dengan gambar pertahanan dan catatan yang berhubungan dengan ketentaraan. Untung ada seorang perwira yang mau memanggil komandan batalion.


Waktu sudah magrib. Soedirman minta supaya diizinkan ke mesjid untuk salat. Permintaan itu dipenuhi dan dia dibawa ke mesjid yang letaknya tidak jauh dari markas batalion.


Harsono Tjokroaminoto, penasihat politik Soedirman, yang besarung dan kaos oblong keluar dan duduk di teras mesjid. Dia bercakap-cakap dengan pasukan penawan. Tak lama kemudian datanglah komandan batalion dengan mengendarai jip. Kepala piket melapor bahwa pasukannya telah menawan satu rombongan dan melucuti senjatanya. Sementara komandan menerima laporan, matanya tertuju kepada Harsono dan mengenalinya.


Zainal Fanani menanyakan, “di manakah tawanan itu?”


“Di mesjid,” jawab Harsono.


Zainal Fanani kemudian masuk ke mesjid dan menghampiri tawanan itu. Dia terperanjat ketika melihat bahwa tawanannya adalah Jenderal Soedirman.


“Mayor Fanani langsung sujud di depan Pak Dirman sambil menangis dan meminta maaf atas kekeliruan pasukannya,” kata Harsono dalam otobiografinya, Selaku Perintis Kemerdekaan.


Zainal Fanani kemudian memberi hormat militer. Seketika itu juga Soedirman dipindahkan ke tempat yang baik. Semua anggota pasukan, termasuk para perwira merasa heran, mengapa komandannya memberi hormat kepada tawanan yang berpakaian preman, pakai peci yang sudah tua, mantel hijau dan tak memakai sepatu, hanya slof saja. Mereka pun terperanjat setelah diberi tahu bawah tawanan itu adalah panglima besar yang sedang menyamar.


Malam itu, beberapa orang dikirim ke Tulungagung supaya mengadakan hubungan telepon dengan Kediri. Beberapa jam kemudian, dari Kediri datang mobil dengan para perwira staf Kolonel Soengkono untuk menjemput Soedirman. Malam itu juga rombongan berangkat menuju Kediri.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page