top of page

Jenderal Surono Peduli Anak Buah

Ia memarahi bawahannya yang ikutan lomba reli karena takut mati di lintasan. Sementara ajudan yang punya insiden dengan keluarganya tidak dimarahi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal TNI Surono Reksodimedjo, Kepala Staf Angkatan Darat (1973-1974). (Repro Surono Reksodimedjo: Perjalanan Hidup Anak Yatim Piato Menjadi Jenderal KASAD ke-10)

24 Apr 2025
3 menit membaca

Diperbarui: 28 Mei

JENDERAL TNI (Purn.) Surono Reksodimedjo merupakan perwira yang solider dengan bawahan. Sifat ini diketahui betul oleh kolega dekatnya, Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo. Sewaktu Surono menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) pada 1974, Sayidiman menjadi deputinya (kini Wakasad). Namun, pertautan Surono dan Sayidiman telah terjalin lebih lama sejak mereka masih perwira menengah pada dekade 1950-an. Ketika itu, Surono menjabat gubernur Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang dan menugaskan Sayidiman sebagai komandan Resimen Taruna Akademi Teknik AD (Atekad) di Bandung.


“Pak Surono mengatakan bahwa di Atekad belum ada Dan Mentar-nya, padahal jumlah tarunanya waktu itu sama atau lebih banyak dari AMN Magelang. Beliau mengatakan bahwa beliau menghendaki para Taruna Atekad, sekalipun sudah diarahkan untuk masuk Korps Zeni, Peralatan dan Perhubungan, menjadi perwira TNI dengan sikap yang tak beda dari Perwira TNI yang dibentuk di AMN Magelang. Sebab itu saya sebagai perwira infanteri dan cukup berpengalaman sebagai komandan pasukan infanteri, harus mendidik dan melatih mereka seperti taruna yang dididik di Magelang,” kenang Sayidiman.


Meski dekat dengan anak buah, Surono yang kelahiran Banyumas, 6 September 1923, dikenal suka bicara blak-blakan. Seperti dicolek Berita Yudha, 19 Maret 1994, Surono kalau sudah marah cukup seram, tetapi itu hanya sesaat saja. Lebih dari itu, Surono selalu perhatian sama anak buahnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page