top of page

Kesedihan Haji Agus Salim

Dikenal galak saat berdebat dan jenaka saat mengisahkan berbagai lelucon, siapa nyana Haji Agus Salim pernah menangis tersedu-sedu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Haji Agus Salim dan Sukarno. (Arsip Nasional Belanda).

3 Apr 2020
3 menit membaca

TAK ada yang meragukan kiprah Haji Agus Salim sebagai seorang pejuang. Sejak aktif di Volksraad (1921-1924), dia telah dikenal kritis dan garang terhadap berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap menindas rakyat. Bahkan ketika merasa segala kritiknya tak disambut, dengan lantang dia berpidato bahwa Volksraad tak lebih sebagai “komedi omong yang disensor” dari sebuah parlemen gadungan.


“Usai melakukan kritiknya itu, Haji Agus Salim lantas keluar dari Volksraad,” ujar Agustanzil Sjahroezah, salah seorang cucu dari Haji Agus Salim.


Di lain waktu, Haji Agus Salim pernah balik mempermalukan orang-orang yang menghinanya. Alkisah, suatu hari beberapa aktivis muda Sarekat Islam (SI) Merah yang berhaluan komunis mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan Haji Agus Salim sebagai pembicara utamanya. Tujuan mereka datang tak lain hanya ingin “mengacaukan” rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka lagi “genit-genitnya” secara intelektual.


Setiap Haji Agus Salim yang memiliki jenggot kambing itu bicara, maka anak-anak muda kiri tersebut serempak menyahutinya dengan suara: “embeeekkk”. Satu kali didiamkan.Dua kali masih tidak diacuhkan. Begitu kali ketiga embikan berjamaah itu terdengar, tiba-tiba Haji Agus Salim mengangkat tangan seraya berkata:


“Tunggu sebentar. Bagi saya,adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan, agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar menikmati rumput di lapangan. Sesudah pidato yang saya tujukan kepada manusia ini selesai, silakan mereka kembali masuk dan saya akan pidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Perlu diketahui, dalam Islam, kambing pun memiliki haknya sendiri. Karena saya menguasai banyak bahasa, maka saya akan memenuhi hak mereka.”


Demi mendengar kata-kata Haji Agus Salim itu, orang-orang yang hadir di sana bergemuruh dalam tawa. Adapun anak-anak muda itu, alih-alih meninggalkan ruangan, mereka yang seolah-olah  menjadi “sekelompok  badut muda”  terpaksa harus “menikmati" ejekan masal itu dengan muka merah padam.


Namun Haji Agus Salim yang cerdas, sangar dan jenaka pernah sangat bersedih. Itu terjadi pada akhir Januari 1946, saat Haji Agus Salim mendengar kabar anak ke-5-nya, Achmad Sjewket Salim gugur dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang.


Paatje memang berduka sekali dengan meninggalnya Sjewket karena sebelumnya Sjewket yang selalu sakit-sakitan itu sudah dilarang untuk masuk Akademi Militer Tangerang,” ungkap almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim.


Ketika memimpin perjuangan diplomasi di Mesir pada 1947, Haji Agus Salim terlihat sering menggunakan sebuah jaket militer usang. Menurut diplomat senior M. Zein Hassan, kendati anggota delegasi Indonesia lainnya agak penasaran dengan kebiasaan orang tua tersebut, namun tak ada yang berani menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan.


Hingga suatu malam, selagi semua anggota delegasi RI duduk di beranda atas Hotel Continental Cairo untuk menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan, tetiba Haji Agus Salim menyanyikan secara lantang sebuah lagu perjuangan.


“Kami yang hadir semuanya terdiam seperti terpukau,” ungkap M. Zein Hassan dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri.


Situasi semakin hening begitu lagu selesai dinyanyikan, sejenak Haji Agus Salim terdiam lantas menangis tersedu-sedu, seolah ingin melepaskan segala sesak dada yang menekan dirinya. Lagi-lagi tak ada yang berani bertanya atau memulai pembicaraan. Keheningan itu mulai dipecahkan lagi oleh suara Haji Agus Salim sendiri.


“Lagu itulah yang dinyannyikan anak saya, ketika pelor Jepang menembus dadanya,” kata Haji Agus Salim dalam nada parau.


Sejurus kemudian, Haji Agus Salim kembali diam. Lalu saat beberapa detik berlalu, dia menghalau lagi keheningan sambil menunjuk jaket militer yang selalu dipakainya sehari-hari selama di Mesir.


“Baju inilah yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid,” ujarnya.


Sjewket, remaja 19 tahun yang telah tiada itu, memang selalu hidup dalam benak Haji Agus Salim. Bisa jadi dia sempat merasa menyesal karena tidak bisa meyakinkan putranya itu untuk tidak menjadi seorang prajurit. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein yang pernah mendengar langsung dari adik Sjewket, Islam Salim, Haji Agus Salim pernah menasehati Sjewket untuk berjuang lewat jalan lain. Toh perjuangan mempertahankan proklamasi tidak harus lewat menjadi seorang prajurit, kata Haji Agus Salim.


“Tapi ya dasar pemuda yang sedang semangat-semangatnya ingin berjuang, Sjewket diam-diam mendaftarkan diri ke Akademi Militer Tangerang dan lulus hingga dia gugur bersama komandannya, Mayor Daan Mogot,” ungkap Rushdy.


Mohamad Roem pernah melukiskan rasa cinta Haji Agus Salim kepada Sjewket. Ketika Haji Agus Salim sedang serius berdiskusi dengan para aktivis muda di rumahnya, tetiba datang Sjewket (yang saat itu berusia 4 tahun) mendekati Haji Agus Salim. Dalam bahasa Belanda, Sjewket kecil minta kepada ayahnya untuk menggaruk punggungnya yang terasa gatal.


“Dengan wajah penuh kasih sayang, perhatian Haji Agus Salim langsung beralih kepada anaknya dan sesudah bertanya (juga dalam bahasa Belanda) sebelah mana yang gatal agar dapat digaruk dengan cepat, Haji Agus Salim menjalankan apa yang dimintakan,” ungkap Roem seperti tercuplik dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Mewarisi ambisi JFK mendaratkan manusia di bulan 50 tahun lalu, Donald Trump terobsesi memasang bendera di Mars.
Mewarisi ambisi JFK mendaratkan manusia di bulan 50 tahun lalu, Donald Trump terobsesi memasang bendera di Mars.
transparant.png
bottom of page