- Mira Renata
- 15 Nov 2019
- 5 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
“DAME… Me… Ayo kita pulang Me,” suara lantang mahout (pawang gajah) Wagino membelah keheningan sore. Dame berjalan menyeruak dari balik pepohonan. Seharian sudah gajah betina itu berjalan-jalan di bukit serta melahap rumput dan dedaunan. Belalainya menjelajah punggung sang mahout yang membawa tas goni berisikan pisang.
“Sebentar dulu Me. Jalan dulu kita balik ke rumah.”
Dame berjalan bebas tanpa belitan rantai. Ekor pendeknya berkibas ke kanan dan kiri.
“Ekor Dame pernah digigit gajah lain saat masih di sirkus. Bagian yang digigit akhirnya diamputasi untuk mencegah pembusukan,” tutur Wagino.
Dame hanyalah satu dari banyak gajah Asia (Elephas maximus) yang pernah dipekerjakan sebagai gajah atraksi. Ia kini hidup bersama belasan gajah lainnya di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), sebuah area konservasi gajah seluas 250 hektar yang berada di dekat Suaka Margasatwa Barumun, Sumatra Utara.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












