- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca
PEMERINTAH kolonial Hindia Belanda pernah dibikin jengkel oleh seorang wartawan Tionghoa bernama Kho Tjoen Gwan. Ketika Belanda ketar-ketir menghadapi Perang Dunia I, dia meledek kebijakan pemerintah kolonial tentang wajib militer bagi penduduk bumiputra. Kritik itu dituangkan lewat puisi panjang berjudul Boekoe Sair Indie-Weerbaar (Buku Syair Pertahanan Hindia) pada 1916.
Akibat ulahnya tersebut, Khoe Tjoen Gwan dipenjara selama tiga bulan. Namun, penjara tak cukup ampuh untuk membungkamnya. Selain memiliki kesadaran sebagai anak jajahan, boleh jadi dia bernyali besar karena memiliki kemampuan bela diri kungfu.
Kho Tjoen Gwan lahir pada permulaan abad 19, diperkirakan tahun 1900, dari keluarga miskin Tionghoa di Brebes, Jawa Tengah. Pada usia sepuluh tahun, dia merantau ke Batavia. Dia memulai peruntungannya sebagai pesuruh di suratkabar Perniagaan, koran peranakan Tionghoa berbahasa Melayu.
“Di sini dia belajar kungfu dari salah seorang anggota suratkabar tersebut yang bermarga Gouw. Kegigihannya dalam bekerja membuahkan hasil dan membawanya menjadi redaktur Soeara Kebenaran,” tulis Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan dalam Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia.
Menurut Alex Cheung dkk., Kho Tjoen Gwan adalah ahli kungfu sekaligus pejuang Tionghoa-Indonesia yang kerap mengkritik pemerintah kolonial melalui berbagai tulisannya. Antara periode 1916 hingga 1926, dia beberapa kali harus mendekam dalam penjara akibat artikelnya di suratkabat bikin senewen pemerintah kolonial. Keahlian kungfu yang dimilikinya, beberapa kali pula menyelamatkan jiwanya selama di penjara.
Kho Tjoen Gwan mulai gencar melontarkan kritik terhadap pemerintah kolonial semenjak diangkat menjadi redaktur Sinar Hindia, suratkabar terbitan Semarang yang berafiliasi dengan Sarekat Islam pada 1916. Pada saat itu, Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto tampil sebagai kekuatan nasionalis radikal di Jawa. Kho Tjoen Gwan yang terpapar gerakan kebangsaan di Semarang, semakin tertarik pada politik sayap kiri dan antikolonial. Selain di Sinar Hindia, dia juga menulis untuk Warna Warta. Baik Sinar Hindia maupun Warna Warta adalah suratkabar peranakan Tionghoa terbesar di Semarang.
Setelah keluar dari penjara gara-gara Boekoe Sair Indie-Weerbaar, menurut Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, Kho Tjoen Gwan kembali masuk tahanan. Dia diperkarakan atas tulisannya berjudul “Doenia Bondjol” (Dunia yang Terpukul) di Warna Warta. Dalam artikel itu, dia menulis pandangannya yang mengkritik Undang-Undang Kewarganegaraan Hindia Belanda.
“Dia ditahan empat bulan. Sebelumnya, dia juga pernah ditahan selama tiga bulan karena menulis buku berjudul Indie Weerbaar,” tulis Sam Setyautama.
Pada 1920, Kho Tjoen Gwan lagi-lagi berurusan dengan hukum karena menulis kritik di Warna Warta tentang usulan milisi pribumi di Hindia Belanda. Dia menyatakan bahwa usulan tersebut merupakan akal-akalan pemerintah kolonial untuk menjadikan warga negeri Hindia dan Tionghoa peranakan sebagai umpan meriam. Delik ujaran kebencian terhadap pemerintah membuatnya dihukum penjara empat bulan.
Ketika Kho Tjoen Gwan bebas, Partai Komunis Hindia (cikal bakal PKI) sudah eksis di Semarang. Dia kemudian aktif dalam pergerakan partai itu. Sinolog Leo Suryadinata dalam Prominent Indonesian Chinese, bahkan menyebut Kho Tjoen Gwan menjadi pemimpin PKI cabang Semarang pada 1924. Sementara itu, Ruth McVey dalam The Rise of Indonesian Communism, menyebut Kho Tjoen Gwan sebagai anggota eksekutif etnis Tionghoa pertama dari partai tersebut. Pada saat yang sama, dia berkedudukan sebagai bendahara Perserikatan Kaum Buruh Gula.
Setelah pemberontakan PKI yang gagal pada 1926–1927, Kho Tjoen Gwan ditangkap di Kudus. Meski sempat diinterogasi, dia luput dari hukuman pengasingan ke Boven Digul sebagaimana yang dialami oleh banyak kader dan simpatisan PKI. Setelah dilepaskan, Kho Tjoen Gwan pindah ke Kudus dan bergabung dengan Hong Boen Hwee, sebuah organisasi bawah tanah Tionghoa.
Pada 1930, Kho Tjoen Gwan berusaha mendirikan Partai Tionghoa Indonesia di Kudus tetapi gagal. Setahun kemudian, kerusuhan rasial terjadi di Pekalongan. Orang-orang Tionghoa bentrok dengan warga pribumi. Kho Tjoen Gwan yang terlibat dalam kerusuhan untuk membela saudara-saudara Tionghoa, tampaknya sudah akrab dengan penahanan dan penjara.
“Kho Tjoen Gwan pun turun tangan dengan kungfunya hingga membuatnya ditahan dalam penjara selama beberapa bulan,” catat Alex Cheung dkk.
Aktivitas politik Kho Tjoen Gwan tak banyak diketahui hingga Jepang datang. Kiprahnya kemudian lebih banyak berkutat dalam pers dan media. Dia sempat bekerja sebagai editor majalah ekonomi di Pekalongan, di bawah asuhan Tan Kiem Swie. Di masa tuanya, dia menjadi penasihat Parama Arta, majalah tentang mistisisme di Surabaya, pada 1960-an. Selain berkiprah di dunia jurnalistik, dia terus mengasah ilmu kungfunya. Meski tak diketahui apakah dia memiliki murid, Kho Tjoen Gwan yang sudah sepuh masih giat berlatih kungfu hingga wafat pada 1970 di Pekalongan.*













Komentar