top of page

The Telenovela Craze in Indonesia

Starting as radio dramas in Cuba, the revolution paved the way for radionovelas to become telenovelas. This Latin American cinema spread to various countries, including to Indonesian television screens.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Illustration of telenovela. (M.A. Yusuf/Historia.ID)

23 Feb
11 menit membaca

There was a time when Latin American original soundtracks were very popular in Indonesia. The lyrics were familiar to many, even to school children. The generation of that era surely still remembers the intro and excerpts from these songs.


Marimar... Aww! Costeñita soy.

(Marimar... Aww! I am a beach girl).


Or,


Ay, amor, ay, amor, aquí está tu Rosalinda/ Rosalinda ay amor... ay amor!

(Oh love, oh love, here is your Rosalinda/ Rosalinda oh love... oh love!)


Marimar and Rosalinda are two telenovela series starring Mexican actress and singer Thalia Sodi Miranda. Both telenovelas were produced by Televisa, a Mexican telenovela production house. Marimar aired in 1994, while Rosalinda aired in 1999. Thalia first starred in the series Maria Mercedes, also produced by Televisa, which aired in 1992. When Maria Mercedes, Marimar, and Rosalinda aired in Indonesia in the mid-1990s, Thalia's charm captivated Indonesian audiences.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page