- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca
HARI-hari terakhir Perang Dunia II di Eropa diliputi berbagai cerita yang memicu munculnya teori konspirasi. Salah satu yang mencuri perhatian adalah rumor tentang kembaran Adolf Hitler, diktator Jerman pemimpin Nazi.
Rumor mengenai doppelgänger atau kembaran Hitler berkembang luas ketika pasukan Soviet merangsek masuk ke wilayah Berlin. Setelah memenangkan pertempuran, mereka berusaha mencari keberadaan Hitler sebagai legitimasi atas keberhasilan mengakhiri Perang Dunia II. Pencarian pemimpin Nazi itu membawa Soviet ke taman Kantor Kanselir Reich pada 2 Mei 1945.
Robert J. Hutchinson dalam What Really Happened: The Death of Hitler menyebut Letnan Kolonel Ivan Klimenko, tentara Soviet dari unit kontraintelijen SMERSH (akronim Rusia untuk Kematian bagi Para Mata-mata), tiba di taman Kantor Kanselir Reich pada awal Mei. Dia dibantu seorang warga Jerman, melihat jenazah propagandis Nazi Joseph Goebbels dan istrinya, Magda, yang hangus terbakar namun masih dapat dikenali dengan jelas, tergeletak di dekat pintu masuk. Di lain tempat, pasukan Soviet menemukan jenazah anak-anak Goebbels di Vorbunker.
“Fotografer Soviet mengambil foto-foto detail jenazah-jenazah tersebut di taman Kantor Kanselir Reich, lalu para tentara membawa jenazah-jenazah itu ke Penjara Plotzensee yang terletak di dekat sana, tempat pasukan Soviet mendirikan pos komando. Pasukan Soviet baru saja menangkap Hans-Erich Voss, seorang petinggi Nazi yang meninggalkan bunker... Pasukan Soviet segera mengetahui bahwa Voss merupakan bagian dari staf Laksamana Dönitz sehingga mereka membawanya kembali ke Fuhrerbunker untuk mencari jenazah Hitler,” tulis Hutchinson.
Saat berjalan melalui area taman, Voss melihat jenazah seorang pria dengan kumis pendek mirip Hitler. Jenazah tersebut memiliki luka di bagian kepala akibat tembakan di dahi. Voss kemudian memberikan informasi kepada pasukan Soviet bahwa jenazah pria itu mungkin mantan pemimpinnya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah penilaiannya itu benar. Jawaban Voss yang kurang meyakinkan membuat Klimenko kembali ke penjara untuk menanyakan keberadaan Hitler kepada perwira Jerman. Beberapa di antaranya dibawa ke area bunker.
“Sebagian besar dari mereka membantah bahwa pria yang tewas itu adalah Hitler. Namun, foto jenazah tersebut –yang diduga sebagai jenazah Gustav Weler, doppelgänger Hitler– ditayangkan dalam film berita yang dirilis oleh Soviet. Oleh karena itu, selama beberapa hari, ada laporan berita bahwa Soviet telah menemukan jenazah Hitler,” tulis Hutchinson.
Klimenko mengira jenazah pria yang ditembak di dahi itu adalah Hitler, sehingga ketika seorang prajurit Soviet memberitahunya bahwa dia menemukan jenazah pria dan wanita yang terbakar parah dan terkubur di area dekat pintu keluar Fuhrerbunker, tak jauh dari jenazah Joseph Goebbels dan Magda, Klimenko memerintahkan anak buahnya itu menguburkan kembali jenazah tersebut.
Pemimpin Soviet Josef Stalin berambisi untuk mengetahui keberadaan Hitler, hidup atau mati. Sehingga, Klimenko dan para pejabat militer Soviet menugaskan anak buahnya untuk mencari dan mengidentifikasi orang atau jenazah yang diyakini sebagai Hitler.
Klimenko menghubungi mantan atase pers Soviet di Kedutaan Besar Berlin, Andrei Smirnov, yang pernah mengenal Hitler secara pribadi. Dia dibawa ke bunker untuk memeriksa mayat yang ditembak di dahi. Beberapa jenderal berkumpul di sekitar mayat tersebut, yang kini dipindahkan ke sisa-sisa bangunan Reich Chancellery yang hancur akibat bom.
Setelah melihat jenazah tersebut, Smirnov bersikeras bahwa jenazah tersebut bukan Hitler. Pernyataan itu semakin menguatkan pandangan bahwa Hitler memiliki doppelgänger atau sosok pengganti untuk menyesatkan lawannya.
Sosok pengganti atau doppelgänger dianggap umum khususnya berkaitan dengan keamanan seorang pemimpin negara. Menurut Arthur H. Mitchell dalam Hitler’s Mountain: The Fuhrer, Obersalzberg and the American Occupation of Berchtesgaden, perwira Britania Raya Bernard Montgomery dan Dwight Eisenhower, mantan presiden Amerika Serikat yang pernah menjadi komandan tertinggi pasukan Sekutu di Eropa Barat dalam Perang Dunia II, memanfaatkan sosok yang mirip dengan mereka untuk kepentingan keamanan dan propaganda.
“Sebelum D-Day, Letnan Clifton James menyamar sebagai Monty (julukan Montgomery, red.), dan dengan proses seremoni yang telah ditentukan, terbang dari Inggris ke Gibraltar, lalu ke Aljir. Hal ini dilakukan untuk memberi kesan bahwa Sekutu sedang mempersiapkan invasi ke Prancis Selatan. Selama Pertempuran Bulge pada Desember 1944, dengan beredarnya rumor bahwa pasukan pembunuh Nazi sedang memburu Eisenhower, Letnan Kolonel Baldwin B. Smith mengambil alih identitas Ike (panggilan Eisenhower, red.) selama beberapa hari,” tulis Mitchell.
Taktik dan strategi untuk menyesatkan musuh di masa perang membuat spekulasi doppelgänger Hitler bermunculan di koran-koran Amerika Serikat dan Inggris. Mereka berpandangan bahwa Führer menggunakan sosok pengganti untuk menghindari penangkapan atau kematian.
Kabar mengenai doppelgänger Hitler tak hanya muncul ketika pasukan Soviet mencari jenazahnya. Jauh sebelum itu, pernah ada surat kabar yang memberitakan tentang penggunaan body double atau sosok yang mirip dengan Hitler untuk menyesatkan informasi dan mata-mata musuh, meski kebenarannya diragukan dan berujung menjadi teori konspirasi.*




_edited.jpg)














Komentar