- 3 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SUATU hari, Inspektorat Ketenagakerjaan Kerajaan Belanda menganggap seorang bocah telah dipekerjakan tanpa izin kerja. Bocah itu adalah Barbara Alexandra Reemer, yang bernyanyi dalam program TV KRO. Umurnya masih 15 tahun dan terhitung belum 10 tahun tinggal di Belanda. Ayah nona yang pandai menyanyi dan dikenal sebagai Sandra Reemer itu pun kesal.
“Putri saya dan juga putra saya Frankie secara rutin tampil untuk orang sakit, dan tidak diperlukan izin kerja untuk itu. Saya menganggap itu standar ganda,” terang Franciscus Justinus Reemer alias Frans Reemer di Leeuwarder Courant edisi 22 September 1964.
Frans tak berhenti di sana. Hingga dia membongkar masa lalunya yang sangar. “Tuan, seandainya Anda tahu. Saya adalah anggota KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger, red.). Saya pernah menjadi anggota Mahkamah Tentara... Saya bahkan pernah menjatuhkan hukuman mati,” sambungnya.
Frans muda ikut dalam Perang Dunia II di Hindia Belanda (kini Indonesia). Dalam kartu tawanan perang Jepang atas nama dirinya, Frans disebut bertugas di Batalyon Depot Infanteri ke-7 di Purworejo, Jawa Tengah, pada 1942 dengan pangkat Vandrig. Pangkat itu setara letnan dua dan biasanya disandang para bekas taruna Akademi Militer Kerajaan di Bandung seperti Abdul Haris Nasution atau Tahi Bonar Simatupang atau taruna Corps Opleiding voor Reserve Officiern (CORO) yang mencetak perwira cadangan di Bandung.
Frans yang kelahiran 12 Februari 1920 itu berayahkan Frans Chr. J. Reemer dan beribu Tjiaw Nio. Pada 1942, ayahnya sempat tinggal di Gedong Delapan Bandung. Sebelum masuk militer, Frans adalah pegawai perusahaan listrik Bandung NV Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO). Frans yang mengaku asal Batavia ini jadi tinggal di Bandung waktu mudanya.
Namun ketika tentara Jepang menyerbu Jawa, Frans dan kawan-kawan tentara KNIL-nya tidak mampu menahan. Frans akhirnya ditawan.
Sebabai tawanan yang hidup dalam kerangkeng besi, Frans tak terus-menerus disiksa. Kesempatan itu dia gunakan untuk belajar bahasa.
“Selama pendudukan Jepang, saya bertugas sebagai penerjemah,” aku Frans di koran De Nieuwe Limburger tanggal 13 November 1963.
Penderitaan Frans di kamp tawanan baru berakhir akhir 1945, jadi dia 3,5 tahun ditawan. Setelah tentara Jepang menyerah, Frans kemungkinan diaktifkan kembali sebagai militer dengan pangkat letnan. Pangkat terakhirnya di KNIL adalah letnan satu.
Setelah 1945, mahkamah militer Belanda beberapa kali menjatuhkan hukuman mati kepada penjahat perang dari tentara Jepang. Frans termasuk di dalam mahkamah yang menjatuhkan vonis tersebut. Namun tak jelas siapa yang pernah divonis mati Letnan Frans.
Begitu Bandung agak aman, Frans bertunangan dengan Petronella Cornelia Johanna Kuitems alias Nelly Kuitems. Perempuan kelahiran tahun 1925 –diperkirakan lima tahun lebih muda dari Frans– itu blasteran Jawa-Belanda. Frans sendiri selain mengalir darah Belanda di tubuhnya, juga darah Tionghoa dan darah Sumatra. Indische Courant voor Nederland tanggal 5 Februari 1949 memberitakan, mereka bertunangan di Bandung pada 12 Januari 1949.
Setelah perang Indonesia dengan Belanda berakhir, Frans kembali menjadi orang sipil. Frans dan Nelly kemudian tinggal di Bandung. GEBEO menerimanya kembali bekerja. Di masa inilah, pada 17 Oktober 1950, Sandra lahir di Bandung. Frankie juga lahir di kota ini.
Selain bekerja, di Bandung Frans bisa melampiaskan hobi bermusiknya dengan nyaman. Dia bisa bermain biola dan bernyanyi untuk sebuah orkes simfoni. Belakangan dia bermain gitar. Anak-anaknya juga diajarinya bermain gitar.
Meski nyaman tinggal di Bandung, keluarga Indo dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu tak memilih kewarganegaraan Indonesia. Pada 1958, mereka ikut dideportasi buntut nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Keluarga itu pun kemudian tinggal di Belanda.
Frans mendapat pekerjaan sebagai akuntan. Di Belanda, bakat musik Sandra dan Frankie terlihat dan hingga dapat panggung. Awal kariernya dirintis ketika masih belasan tahun, Sandra pernah merekam lagu Melayu macam “Nona-nona”, “Kopi Susu”, “Kapal Ladju” dan lain-lain di era 1960-an.
“Saat ini, saya seorang akuntan, tetapi juga penulis lirik. Banyak lagu yang dinyanyikan Sandra adalah karya saya sendiri,” aku Frans di De Nieuwe Limburger tanggal 13 November 1963.
Lagu-lagu Sandra ada pula yang berbahasa Jepang. Pengalaman Frans sebagai tawanan perang Jepang amat membantunya menyiapkan lagu untuk anaknya.
Karier Sandra makin cemerlang di era 1970-an. Duetnya dengan Andres cukup sukses. Pada awal 1970-an lagu “Storybook Children” karya Chip Taylor dan Billy Vera yang mereka nyanyikan laris didengar publik Belanda dan juga Indonesia. Masa itu pula Sandra pernah berkunjung ke Indonesia dan sempat bertemu dengan Ahmad Albar, yang juga pernah sukses di Belanda sebelum menjadi rocker Indonesia yang legendaris. Sandra masih manggung sebagai penyanyi hingga era 1980-an.*













Komentar