- 12 Apr 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 2 jam yang lalu
KOMPLEKS Departemen Luar Negeri di wilayah Cidodol, Kebayoran Lama, lengang. Hanya beberapa satpam berkeliling. Di ujung sebuah gang, sebuah rumah tampak asri. Pagarnya bercat hijau. Halamannya semarak dengan anggrek dan kuping gajah. Pemiliknya, Sukadiah Pringgohardjoso, mengenakan baju tenun dengan motif Dayak berwarna coklat muda. Rambutnya disanggul rapi. Terkesan anggun.
Sukadiah pernah menjadi duta besar Indonesia untuk Denmark; duta besar perempuan pertama di masa pemerintahan Soeharto. “Kabarnya dulu Pak Joop Ave yang mengusulkan perlunya mengangkat seorang duta besar wanita. Obrolan informal konon terjadi di Tapos, Bogor,” ujarnya.
Di hari tuanya, Sukadiah menjadi pembina Yayasan Sosial Budaya Sosrokartono. Pandangan dan pendengarannya mulai menurun di usianya ke-86. Dia didampingi asistennya, Supamiyoto. “Di luar sana banyak perkumpulan dan paguyuban mengatasnamakan Sosrokartono, namun kami mengikuti aturan pemerintah mengenai organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















