top of page

The Cideng Camp: A Hell on Earth

Japan declared the Cideng Camp a “protected” ghetto, but in reality, the internees' lives were hellish.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 7 Feb
  • 10 menit membaca

Cideng Barat Street, Central Jakarta, is bustling with heavy traffic even though the sun is already high in the sky. Rows of shop houses line both sides of the street. If you enter the small streets between Cideng Barat Street and Cideng Timur Street, you will see several colonial-era houses, some of which are still well maintained. They are surrounded by modern houses and shops.


It was in this area that tens of thousands of people lived a bitter life under the threat of bayonets and guns. Eight decades ago, during the Japanese occupation (1942-1945), the Cideng area was “hell” for its residents, namely the internees at a place called Cideng Camp.


"Cideng became one of the most notorious camps, so much so that the internees called it ‘Hell Camp Cideng’ because they were treated inhumanely there. One can imagine that a small camp house could be filled with 80 people," explained Nunus Supardi in his two books, Documenta Historica: Kamp Interniran (Documenta Historica: Internment Camps) and Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia (Various Aspects of Life Behind Internment Camps: The Japanese Occupation to the Revolution in Indonesia).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
transparant.png
bottom of page