top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kisah Pertemuan Pangeran Makassar dan Padri Spanyol

Dekat dan belajar banyak ilmu modern dari orang Portugis dan Spanyol, Karaeng Karunrung sangat anti-Belanda. Tegas melawan VOC.

7 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Istana raja Gowa. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

  • 7 Feb
  • 2 menit membaca

OKTOBER 1657, sebuah kapal dari Manila, Filipina tiba di Pelabuhan Makassar. Dari kapal itu turunlah seorang pendeta Katolik Spanyol bernama Domingo Navarrete. Seorang pangeran Makassar dari Kerajaan Tallo yang oleh bangsa latin Eropa dipanggil Carrin Carroro atau Carrin Cronron akan ditemui sang pendeta di sebuah rumah orang kaya terpandang di sana.

 

Pangeran Carrin Cronron adalah putra dari Carrin Patin Galoa atau Carrin Patengaloan, yang dalam palafalan setempat dieja sebagai Karaeng Pattingngaloang. Sedangkan sang pangeran yang disapa Carrin Cronron adalah Karaeng Karunrung Abdul Hamid (1631-1685).

 

Pendeta Domingo Navarrete, sebagaimana dikisahkan dalam “The Travel and Controversies of Frier Domingo Navarrete” yang tersua dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe, akhirnya bertemu pembesar Makassar itu pada siangnya. Hari berikutnya, Pendeta Domingo diantar oleh Kapten Francis Viera, yang orang Portugis pemeluk Katolik, mengunjungi istana Karaeng Karunrung.

 

Setelah berjalan 3,5 km, mereka tiba di istana megah sang pangeran. Di dalamnya terlihat oleh pendeta sebuah perpustakaan yang kaya koleksi peta dan buku-buku Eropa milik Karaeng Pattingngaloang. Sebuah jam dinding juga terpampang di sana. Pendeta Domingo, Kapten Viera, dan pangeran pun bicara banyak hal. Termasuk soal agama.


Kapten Viera, yang Katolik fanatik, pun merasa tak nyaman. “Seperti berada di neraka,” katanya.

 

Mendengar perkataan Kapten Viera, Karaeng Karunrung turun tangan meskipun tak sampai menumpahkan emosi. “Jangan berkata seperti itu, Kapten,” tegur Karunrung.



Karaeng Karungrung selalu menjaga adab. Dia tak gengsi untuk mengunjungi Pendeta Domingo di tempatnya tinggal. Sebaliknya, mendapati dirinya dikunjungi orang penting, Pendeta Domingo langsung menyambut pangeran Makassar itu dengan menjabat tangannya.

 

“Tuhan Kami memberkati Anda,” kata Karaeng Karunrung.

 

Karaeng Karunrung memposisikan dirinya tetap sebagai seorang Muslim yang mengharapkan kebaikan dari Tuhan yang disembahnya kepada pendeta Katolik itu. Di sana, Karaeng Karunrung lebih banyak mendengar pendeta Domingo berkhotbah.

 

Sang pendeta tahu, nasihatnya ibarat hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri Karaeng Karunrung saja meski dia tahu sang pangeran ingin mendengarkannya. Toh, Karaeng Karunrung tetap kepercayaannya.

 

Sebelum kedatangan Pendeta Domingo, Karaeng Karunrung telah diangkat menjadi raja Tallo dengan gelar Sultan Harun pada 1654. Dia merangkap Mangkubumi negara persekutuan Gowa-Tallo, menggantikan ayahnya –Karaeng Pattingngaloang– yang wafat pada 1654. Ketika Karunrung berkuasa di Tallo, raja Gowa merangkap raja Gowa-Tallo adalah Sultan Hasanuddin.

 

“Beliau memiliki beberapa raja kecil di bawah pemerintahannya. Negeri ini berlimpah beras,” catat Pendeta Domingo.



Kerajaan Gowa-Tallo punya armada laut kuat dengan banyak kapal dan prajurit-prajurit cakap ketika Pendeta Domingo berkunjung ke sana. Perdaganganlah yang membuat negeri-negeri Makassar menjadi kerajaan kuat. Karena itu, Makassar menjadi incaran banyak pihak termasuk kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

 

Kareang Karunrung sendiri bisa dekat dengan orang Portugis atau Spanyol, namun tidak dengan orang Belanda yang tergabung dalam VOC. Dirinya tegas ikut melawan VOC yang hendak menguasai Makassar. Maka setelah Gowa-Tallo dan sekutunya dikalahkan armada VOC dan dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya, Karaeng Karunrung termasuk yang tidak terima.

 

“Perjuangan kita belum berakhir, kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan,” kata Karaeng Karunrung, yang hidupnya tidak nyaman ketika Belanda berkuasa di Makassar dan kemudian menjadi orang terbuang, seperti dicatat Hannabi Rizal dkk dalam Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan, Volume 1.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Hidayat Martaatmadja memutuskan pensiun dari KNIL setelah menyaksikan penindasan Belanda terhadap bangsanya. Dia beperan dalam pendirian PDRI.
bottom of page