top of page

A Pious Watchmaker in Surabaya

This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.

loading_historia_white.gif
transparant.png

The grave of Johannes Emde in Surabaya. (Petrik Matanasi/Historia.ID)

7 Apr
5 menit membaca

The DESIRE to risk his life for a better future fueled the determination of Johannes Emde, a young Dutchman, to leave home. This passion grew even stronger after being inspired by a sailor friend who told him about his experiences visiting many places. Emde finally signed up to become a sailor. 


Good fortune came his way. Emde was accepted as a sailor on a ship sailing to Batavia (now Jakarta), with the salary of 90 guilders. 


After arriving in Batavia, the adventure of Emde, who couldn't escape from military service, began. Exploring part of the coast of Kalimantan and getting involved in a war against pirates in the waters of Banjarmasin were just some of Emde's extraordinary adventures in the Dutch East Indies.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page