- 20 jam yang lalu
- 3 menit membaca
DI bilangan Kresek, Tangerang tempo dulu, hiduplah seorang ahli bela diri bernama Encek Oh Yan. Tak diketahui apa marga Encek Oh Yan, sebagaimana lazimnya orang Tionghoa. Yang terang, Encek Oh Yan begitu disegani di tengah masyarakat Tionghoa Tangerang semasa pendudukan Jepang. Encek Oh Yan merupakan seorang jago kuntau, yang memadukan kungfu dengan silat.
Dalam Melacak Jejak Kungfu Tradisional Indonesia yang ditulis Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan disebutkan, Encek Oh Yan memiliki keahlian bertarung yang luar biasa. Dari berbagai tuturan para sesepuh silat di daerah Kresek, kemahiran kuntau Encek Oh Yan mengutamakan kecepatan dan ilmu ringan tubuh. Dengan teknik itu, Encek Oh Yan tak kesulitan menghadapi lawannya meskipun mereka bersenjata. Begitulah tentara Jepang kerap kerepotan meringkus Encek Oh Yan.
“Diketahui Encek Oh Yan juga pernah bekerjasama dengan beberapa warga pribumi yang ahli pencak silat tradisional dalam bergerilya melawan Jepang,” catat Alex Cheung, dkk.
Saban kali tentara Jepang mengadangnya, Encek Oh Yan selalu berhasil meloloskan diri. Tak hanya lepas dari cengkeraman serdadu Nippon, Encek Oh Yan juga melumpuhkan mereka. Meski dikenal bengis, Jepang gagal menangkap Encek Oh Yan hingga akhirnya angkat kaki dari Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, di Jakarta muncul berbagai laskar bersenjata. Mereka eksis untuk menjaga keamanan pasca proklamasi kemerdekaan. Namun, aksi kelompok ini kadangkala disertai dengan kekerasan terutama terhadap orang yang dicurigai. Begitulah nasib yang dialami Encek Oh Yan dengan kelompok Bambu Runcing.
Menurut Alex Cheung, dkk, ada kelompok bambu runcing palsu –yang bergerak untuk kepentingan golongannya sendiri– yang menggunakan pengaruh namanya untuk merampas harta benda warga Tionghoa. Encek Oh Yan sebagai orang Tionghoa turut andil melawan kelompok ini. Karena cara kekerasan tidak berhasil, hasutan ditiupkan untuk menghadapi Encek Oh Yan.
“Encek Oh Yan lalu difitnah sebagai antek-antek penjajah yang membuatnya berhasil ditangkap oleh gerombolan bambu runcing palsu yang terus menghasut masyarakat sehingga masyarakat menganggap fitnahan tersebut sebagai suatu kebenaran. Beberapa warga pribumi yang dulu pernah berjuang bersama Encek Oh Yan berusaha meluruskan kebenaran ceritanya namun tidak berhasil,” terang Alex Cheung, dkk.
Para gerombolan kemudian mengeksekusi Encek Oh Yan dengan hukuman picis. Tubuh Encek Oh Yan diikat dan diarak sambil mengulitinya sedikit demi sedikit sepanjang jalan. Masyarakat yang kedapatan menyaksikan di pinggir jalan dipaksa untuk meneteskan perasan jeruk limo di atas luka-luka Encek Oh Yan sehingga menimbulkan rasa pedih luar biasa. Encek Oh Yan akhirnya meninggal dunia ketika arak-arakan tiba di daerah Cengkareng.
Kekerasan yang terjadi pada Encek Oh Yan merupakan rangkaian dari peristiwa pembantaian Cina Benteng yang terjadi pada awal Juni 1946. Suratkabar Arnemsche Courant, 7 Juni 1946, menyebut aksi kekerasan yang berujung pembantaian itu terjadi karena kemarahan orang Indonesia atas banyak warga Tionghoa yang berada di antara pasukan Belanda yang telah menduduki kembali Tangerang. Namun, pihak Sekutu sekalipun yang menguasai Jakarta tidak dapat memberikan bantuan karena alasan politik. Tangerang terletak di dekat Sungai Cisadane, yang memisahkan wilayah yang dikuasai Belanda dan Indonesia.
Mengutip laporan Palang Merah Jang Seng Ie Jakarta, sejarawan Benny G. Setiono menyebut sebanyak 653 orang Tionghoa terbunuh di Tangerang dan sekitarnya, termasuk 136 perempuan dan 36 anak-anak. Sebanyak 1.268 rumah etnis Tionghoa dibakar dan 236 lainnya rusak. Diperkirakan 25.000 orang pengungsi ke Jakarta dari Tangerang. Sebagian ditampung di gedung perkumpulan Sin Ming Hui di Molenvliet West (kini Jl. Gadjah Mada) No. 188.
“Pada ketika itu, tidak ada yang berani ke Tangerang untuk meninjau dan memberikan pertolongan,” kata Benny dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik.
Peristiwa keji tersebut menimbulkan kegeraman di kalangan banyak orang. Orang Tionghoa lantas mengumumkan tanggal 11 Juni 1946 sebagai hari berkabung. Pasca kerusuhan, Menteri Penerangan Natsir turun meredakan gejolak sosial di Tangerang. Jurnalis Rosihan Anwar, yang mendampingi kunjungan Natsir, mengatakan bahwa Letkol Daan Jahja dan Mayor Kemal Idris yang bertugas menjaga ketertiban dan keamanan daerah itu tak berdaya menghadapi amukan rakyat. Kemarahan memuncak lantaran kecurigaan terhadap sebagian orang Tionghoa yang membantu serdadu NICA.
“Rakyat yang mengamuk, membakar rumah para petani yang kebanyakan terdiri dari orang Tionghoa –biasa disebut Cina Benteng– tidak bisa dibendung,” sebut Rosihan dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 1.
Sebagai korban pembantaian, anak dari Encek Oh Yan, yaitu Encek Andung, memendam dendam kepada gerombolan yang membunuh ayahnya. Seperti ayahnya, Encek Andung juga mewarisi keahlian kuntau. Meski demikian, dia cukup sadar bahwa tak mampu menghadapi gerombolan sendirian. Untuk itu, Encek Andung menggabungkan diri dengan pasukan NICA.
Menurut cerita dari para sesepuh silat, Encek Andung akhirnya berhasil menuntaskan kesumatnya. Setelah menumpas dan menewaskan para pembunuh ayahnya, Encek Andung lalu menyerahkan diri kepada yang berwajib untuk dipenjara. Kelanjutan kisah Encek Andung kemudin simpang siur. Ada yang bilang dia meninggal di penjara. Versi lain menyebutkan, setelah bebas dari penjara, Encek Andung menjadi petani di daerah Kresek hingga wafat.*












