top of page

Kiamat Tak Jadi Datang

Sebuah buku yang terbit pada 1974 memprediksi akan terjadi bencana besar. Masyarakat meyakininya sebagai kiamat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

21 Mei 2014
2 menit membaca

Diperbarui: 1 Mar 2025

Orang-orang antre meminta keterangan mengenai kabar "kiamat" di Fiske Planetarium, Colorado, AS. (Glen Martin/Denver Post File Photo).


SEKIRA empat ribu warga Filipina dari sekte Kristen Ako menggali lubang di dekat rumah dan mengisinya dengan bahan makanan. Di Boston, AS, orang-orang mengadakan “pesta terakhir”, sementara di Los Angeles ratusan orang memenuhi Observatorium Griffith untuk memperoleh keterangan. Penyebabnya: “Hari Akhir” diyakini akan tiba pada 10 Maret 1982.


Pada 1974, dua astro-fisikawan Inggris John Gribben dan Stephen H. Plagemann menerbitkan buku The Jupiter Effect. Menurut buku ini, pada 10 Maret 1982 sembilan planet di galaksi akan sejajar dengan matahari dan daya tariknya akan meningkat. Akibatnya, permukaan matahari akan meledak dan sampai ke bumi. Gempa bumi dahsyat bakal menerjang California, AS, daerah dengan intensitas gempa tertinggi di luar Alaska dan Hawaii. Maka, orang pun menyimpulkan kiamat bakal tiba.


Meski banyak ahli astronomi tak sependapat, tetap saja ada orang yang mencoba meraih keuntungan. “Apa yang mengganggu adalah bahwa para pedagang kiamat menyalahgunakannya atas nama ilmu pengetahuan,” tulis Nigel Henbest, astronom Inggris dalam “Sorry, the Jupiter Effect is Canceled,” dimuat di New Scientist, 4 Maret 1982.


Para “pedagang kiamat” itu di berbagai penjuru dunia menyimpulkan bahwa 10 Maret 1982 merupakan akhir dari dunia alias kiamat.


Kepanikan pun melanda. Bukan hanya di AS dan Filipina. Di Calcutta, India, orang-orang Hindu menggelar upacara “Yajna”; memuja Dewi Agni (api). Penduduk Lima, Peru, bahkan menyangka kiamat datang lebih awal ketika gempa bumi berkekuatan 4,2 SR mengguncang kota itu pada 9 Maret 1982.


Alih-alih menyodorkan ketenangan, media di berbagai negara ikut memanaskan situasi. Di India, misalnya, Sunday Herald memprediksi bumi akan dilanda gempa, wabah, dan pemberontakan.


Bagaiman dengan Indonesia? Ada juga yang percaya. Selain bumi bakal bergoncang kuat, “Pulau Jawa akan terbelah dua dan tenggelam,” tulis Tempo, 20 Maret 1982.


Berbagai pihak pun kerepotan. Di AS, selain Observatorium Griffith, Kitt Peak National Observatory bahkan sampai menerbitkan rilis tujuh halaman. John Gribben sendiri berkirim surat ke redaksi New York Times, kemudian dimuat pada 3 Maret 1982, untuk menyeru orang-orang agar tak panik. Dia mengatakan sama sekali tak memprediksikan kiamat.


Ketika hari-H tiba, orang-orang yang termakan isu menjalani hari lain dari biasanya. Orang-orang di Puerto Rico berkumpul di jalan-jalan sejak subuh; mereka ingin menyaksikan “Jupiter Effect.” Orang-orang Kristen sekte Ako di Filipina masuk ke lubang-lubang yang mereka buat.


Namun kiamat tak jadi datang. Menurut Henbest, jangankan bencana dahsyat, apalagi kiamat, posisi sembilan planet sejajar pun tak bakal terjadi pada 10 Maret 1982. “Tapi kalau di tahun 1982 kita mengalami ‘penderitaan terus dan kerusuhan di Inggris’, janganlah menyalahkan Jupiter tua yang malang,” kata astronom Universitas Cambridge itu menyindir kaum penganut kiamat Jupiter Effect.


Dan kehidupan kembali berjalan normal. Namun “ramalan” serupa kerapkali muncul. Misalnya, ramalan suku Maya bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Nyatanya, kiamat belum juga datang.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page