top of page

Kisah Babu Datem dan Upaya Melindungi Pekerja Hindia di Belanda

Kematian Datem, babu dari Hindia, memantik pembahasan tentang pentingnya komite untuk melindungi dan membantu orang-orang Hindia yang bekerja di Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret babu laut dan jongos di kapal. (Repro Di Negeri Penjajah).

3 Jun 2024
5 menit membaca

Diperbarui: 25 Apr

DI DEN HAAG, Belanda, mayat seorang pembantu rumah tangga asal Hindia bernama Datem berusia 17 tahun, yang meninggalkan pekerjaannya beberapa minggu lalu, dievakuasi dari kanal dekat Javabrug. Demikian laporan surat kabar Het Nieuws van den Dag: Kleine Courant, 16 Oktober 1902.


Datem merupakan satu dari banyak orang Hindia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Belanda. Kemungkinan besar ia ikut majikannya yang bersama keluarganya kembali ke Belanda usai tinggal di Hindia Belanda. Sebelum ditemukan tewas, surat-surat kabar Belanda melaporkan berita kehilangan Datem.


Dagblad van Zuidholland en’s Gravenhage, 7 Oktober 1902, memberitakan pihak kepolisian diminta untuk mencari dan membawa Datem kembali kepada majikannya. Wanita muda itu dilaporkan telah meninggalkan pekerjaannya sejak 1 Oktober 1902. Sebelum meninggalkan kediaman majikan pada malam hari, ia sempat meninggalkan catatan yang berisi ia akan bunuh diri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page