top of page

Kisah Sukarno Kecil di Mojokerto

Sukarno kecil tinggal dan bersekolah di Mojokerto. Main jangkrik dan gasing di lapangan, mandi dan cari ikan untuk lauk di sungai.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Patung Sukarno kecil di depan SDN Purwotengah, Mojokerto, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kota Mojokerto).

9 Jun 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 6 Jun

DARI Surabaya, ketika berusia enam tahun, Sukarno dan keluarga pindah ke Mojokerto, Jawa Timur. Mereka tinggal di daerah yang miskin. Meski demikian, tetangga-tetangga Sukarno masih punya uang untuk membeli jajan. Sedangkan Sukarno kecil tidak.


Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno bercerita pada hari lebaran, ia mengurung diri di kamar karena tidak bisa membeli petasan. Ia hanya bisa mengintip dari lubang udara ketika teman-temannya sedang bermain petasan di luar.


“Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur-luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu –dan aku tidak!” kisahnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
Sejarawan Sri Margana menyoroti klaim-klaim kontradiktif hingga lemahnya kronologi dan paradigma. Prof. Asvi Warman Adam mempersoalkan upaya legitimasi terhadap Orde Baru.
Sejarawan Sri Margana menyoroti klaim-klaim kontradiktif hingga lemahnya kronologi dan paradigma. Prof. Asvi Warman Adam mempersoalkan upaya legitimasi terhadap Orde Baru.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Pahlawan sejatinya manusia biasa. Pengajaran sejarah mestinya bisa menghadirkan sosok humanisnya.
Pahlawan sejatinya manusia biasa. Pengajaran sejarah mestinya bisa menghadirkan sosok humanisnya.
Penelitian Belanda dan berbagai kasus gugatan pengadilan yang melibatkan mereka.
Penelitian Belanda dan berbagai kasus gugatan pengadilan yang melibatkan mereka.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
transparant.png
bottom of page